Laman


Cari

Senin, 24 Mei 2010 di 00.13 Diposting oleh Romansa Taasihe 0 Comments

Rosario

Kata Pengantar

Puji dan syukur penulis panjatkan ke hadirat Tuhan yang Mahakuasa, karena berkat perlindungan, tuntunan, serta bimbingan-Nya penulis dapat menyelesaikan karya tulis yang sederhana ini. Adalah suatu kebahagiaan tersendiri dan rasa kepuasan setelah menyelesaikan karya tulis ini. Dalam karya tulis ini tidak disajikan sampel-sampel atau contoh-contoh praktek devosi Marial dalam hal ini doa rosario. Oleh sebab itu, sebelumnya penulis mohon maaf bagi para pengagum doa rosario maupun pembaca sekalian karena mungkin karya tulis ini akan sedikit menimbulkan kekecewaan dalam hati saudara-saudari. Dalam karya tulis ini hanya disajikan sedikit keterangan dan penjelasan mengenai doa rosario. Perlu juga penulis sampaikan bahwa karya sederhana ini bertolak dari satu dokumen Gereja dalam hal ini Surat Apostolik Paus Yohanes Paulus II tentang Rosario Perawan Maria (Roarium Virginis Mariae). Tapi tidak menutup kemungkinan juga diambil sedikit referensi tambahan dari buku-buku atau sumber lainnya yang berkaitan dengan doa rosario untuk lebih memperkaya penjelasan dan keterangan dalam karangan ini.

Metodologi penulisan yang digunakan pada karya ini adalah lebih pada pendekatan teologis dan eksplanatf. Sehingga tidak mengherankan ada kata-kata yang nampaknya mengambang dan sulit dimengerti. Penulis sebenarnya mau mengungkapkan hakikat sesungguhnya yang menjadi landasan dari semangat devosional dalam doa rosario. Bertolak dari pemikiran; karena sungguh sangat disayangkan apabila umat dengan semangat devosional yang menggebu-gebu namun pada akhirnya tersesat dalam pengembangan hidup spiritual yang keliru dan dangkal atau sampai pada bentuk penyimpangan devosional atau deviasi. Hal ini disebabkan karena pasti tidak semua orang mengetahui landasan iman dari hidup devosional ini (doa rosario). Sehingga hal lain yang bisa terjadi pula adalah mengikuti doa rosario hanya sekedar formalitas saja. Semoga lewat karya tulis ini, para pembaca sekalian dapat memperoleh sedikit penjelasan mengenai hidup bakti yang berciri khas Maria ini. Tak lupa juga penulis sampaikan limpah banyak terima kasih kepada mereka yang dengan tulus hati sudah membantu dalam pengerjaan karya tulis ini.

Kakaskasen, 17 Maret 2010

Penulis

Daftar Isi

Kata Pengantar………………………………………………………………………………………….. i

Daftar Isi………………………………………………………………………………………………….. ii

Pendahuluan……………………………………………………………………………………………… 1

BAB I

LATAR BELAKANG ROSARIO PERAWAN MARIA

1. Latar Belakang Historis……………………………………………………………………………. 2

1.1. Praktek Rosario pada Jaman Dulu………………………………………………………….. 2

1.2. Santu Dominikus Penerima Rosario Suci………………………………………………….. 4

2. Latar Belakang Rosarium Virginis Mariae……………………………………………………. 9

2.1 Pengantar……………………………………………………………………………………………. 9

2.2 Munculnya Surat Apostolik Paus Yohanes Paulus II……………………………………. 9

2.3 Penetapan Tahun Rosario………………………………………………………………………. 11

2.4 Krisis Rosario………………………………………………………………………………………. 12

BAB II

ROSARIO SEBAGAI DOA YANG KRISTOSENTRIS

1. Bersama Maria Berdoa kepada Yesus……………………………………………………….. 13

1.1 Bersama Maria Mengenang Kristus………………………………………………………….. 13

1.2 Dari Maria Belajar Mengenal Kristus……………………………………………………….. 14

1.3 Bersama Maria Menjadi Serupa dengan Kristus…………………………………………. 15

2. Rosario Sebagai Ungkapan Iman terhadap Kristus……………………………………….. 16

2.1 Rosario Ringkasan Injil Tuhan…………………………………………………………………. 17

2.2 Rosario Sarana Merenungkan Misteri Kristus…………………………………………….. 18

2.3 Rosario Sarana Kontemplasi…………………………………………………………………… 19

3. Model doa Rosario…………………………………………………………………………………. 20

3.1 Rosario, “Cermin Kristus”………………………………………………………………………. 21

3.2 Rosario, “Doa Keluarga”……………………………………………………………………….. 22

3.3 Rosario, “Doa Perdamaian”……………………………………………………………………. 24

3.4 Rosario, “Rantai Penghantar Kepada Allah”………………………………………………. 26

BAB III

REFLEKSI TEOLOGIS, RELEVANSI DAN IMPLIKASI DOA ROSARIO

1. Apa yang Terjadi dengan Doa Rosario Dewasa ini?………………………………………. 28

2. Refleksi Teologis atas Doa Rosario……………………………………………………………. 29

3. Relevansi dan implikasi……………………………………………………………………………. 31

Penutup……………………………………………………………………………………………………. 33

Daftar Pustaka…………………………………………………………………………………………… 34


Pendahuluan

Doa rosario merupakan salah satu sarana untuk mengembangkan hidup spiritual umat. Doa ini sangat populer dalam kalangan masyarakat Katolik. Namun, permasalahan apa yang perlu diangkat daripadanya? Apakah soal popularitas yang melekat pada doa yang berciri khas Maria ini?, atau apakah karena hubungan dan kaitannya dengan Maria? Semua pertanyaan di atas belum terlalu mengena untuk tujuan analisis yang menjadi alasan pembuatan karangan ini. Motivasi, landasan serta nilai yang terkandung dalam hidup Devosi Marial inilah yang perlu diangkat. Alasannya, karena banyak umat yang belum terlalu mengetahui nilai iman yang begitu berharga yang terkandung di dalam doa rosario tersebut. Sebab, hal inilah yang perlu diperhatikan sebagai langkah pemurnian semangat hidup devosi. Belum tentu semua umat tahu bahwa Doa rosario ini hadir karena Maria menjadi penghantar kepada Allah dan rahmat-Nya dan bukan saja karena partisipasinya dalam karya penyelamatan. Devosi Maria ini secara otentik membawa pada hubungan dengan Yesus Kristus.

Dalam makalah sederhana ini tercantum tiga bab pembahasan. Pertama, mengenai sejarah dan latar belakang dari Surat Apostolik Paus Yohanes Paulus II. Sengaja Surat Apostolik itu juga diangkat dalam makalah ini karena dari sanalah karangan sederhana ini bertolak. Surat Apostolik Paus Yohanes Paulus II ini semacam memberi angin segar bagi perkembangan doa rosario lewat anjuran yang terkandung di dalamnya. Kedua, mengenai pernyataan dasar yang menjadi jiwa pendorong pemurnian semangat hidup devosi Maria ini, yaitu; cirinya yang Kristosentris. Hal ini tidak bisa digugat karena pada dasarnya doa rosario ini demi peneguhan hubungan yang mesra yang terjalin dalam kontemplasi rosario. Ketiga, makalah ini membahas mengenai permenungan teologis atas doa rosario serta relevansi dan implikasi dalam hidup umat. Di sini lebih di ambil juga soal analisis terhadap hal-hal praktis yang merupakan perwujudan nilai rosario. Dalam berbagai peristiwa rosario bisa ditarik hal-hal yang mempunyai hubungan dengan doa rosario. Terakhir mengenai ciri-ciri doa rosario yang dapat dibawa dan diaktualisasikan dalam hidup umat; misalnya saja mengenai ciri damai yang dapat dibawa dalam praksis hidup umat dan juga dapat digunakan sebagai irama hidup.

BAB I

LATAR BELAKANG ROSARIO PERAWAN MARIA

1. Latar Belakang Historis

1. 1. Praktek Rosario Pada Jaman Dulu[1]

Seperti diketahui doa rosario adalah doa tradisional Gereja (dan sampai sekarang terus dipelihara oleh Gereja Katolik) selama beberapa abad terakhir. Rosario bukanlah doa liturgi atau doa resmi Gereja, sehingga umat yang mendaraskannya tidak perlu terlalu memikirkan ”tata-tertib” yang sudah ada sebagai warisan masa lampau.

Dalam sejarah doa rosario, sampai lama sekali doa ”Salam Maria” diucapkan sebagian saja, yaitu sampai dengan kata “… buah tubuhmu Yesus “. Sekarang pun orang boleh berbuat demikian. Secara tradisional ditetapkan bahwa selama satu peristiwa rosario, doa ”Salam Maria” harus diucapkan sebanyak 10 kali, dan bahwa doa itu lengkap bila jumlah peristiwanya lima dan ”Salam Maria” diucapkan 50 kali. Namun tidak ada larangan untuk merenungkan satu peristiwa saja. Malah boleh dipastikan, bahwa lebih baik merenungkan satu peristiwa rosario dengan sebaik-baiknya, daripada menyelesaikan pendarasan doa ”Salam Maria” sebanyak 50 kali tetapi dengan rasa jemu dan pikiran kosong.

Dari sejarah perkembangan devosi diketahui bahwa sejak dahulu di tengah-tengah umat Kristiani berkembang devosi kepada bunda Yesus, yaitu Maria. Salah satu contohnya yaitu perarakan persembahan (mulai abad ke VII, di Roma), yang diiringi nyanyian ”Ave Maria gratia plena” , yang berarti ”Salam Maria penuh rahmat” . Secara khusus devosi tersebut dilestarikan di biara-biara. Pada abad X dan XI, dalam buku-buku doa para biarawan sering disebut doa ”Salam Maria”. Mulai abad XI muncullah kebiasaan untuk memberikan salam kepada Bunda Maria, bila seseorang melewati lukisan atau patung Bunda Maria. Pada saat-saat demikian dinyanyikan atau diucapkan kata-kata ”Ave Maria” atau ”Salam Maria”.

Perlu diketahui bahwa pada saat itu belum dikenal doa ”Salam Maria” dengan rumusan seperti sekarang. Yang dikenal hanyalah bagian pertamanya saja, yaitu sampai dengan kata-kata “… buah tubuhmu “. Sehabis kata-kata ini biasanya orang berlutut untuk menghormati Yesus, ”buah tubuh” Maria itu. Jumlah ”Salam Maria” yang sempat didaraskan dihitung pada tali Pater Noster (seuntai tali yang berikat-ikat atau bermanik-manik, yang mula-mula dipakai untuk menghitung doa Bapa Kami). Rangkaian doa ”Salam Maria” yang diucapkan 150 kali diberi nama Kitab Mazmur Maria Lama kelamaan 150 Salam Maria itu dibagi menjadi 3 bagian, yaitu masing-masing berjumlah 50 saja. Rangkaian Salam Maria yang berjumlah 50 tersebut diberi nama ” Korona ”, yang berarti ”Mahkota”. Kata ini mengingatkan orang akan hiasan-hiasan bunga yang pada masa itu sering dipakai pada patung-patung Maria. Hiasan itu mirip mahkota, atau topi. Bagian kedua doa ”Salam Maria”, yang berisi ” Santa Maria, bunda Allah, doakanlah kami yang berdosa ini, sekarang dan waktu kami mati. Amin “, menjadi doa resmi sejak Paus Pius V (tahun 1568) menerbitkan ensiklik ”Breviarium”. Namun demikian bagian kedua itu baru diterima umum pada abad XVII.

Kebiasaan untuk menghubung-hubungkan doa ”Salam Maria” yang diulang-ulang itu dengan berbagai peristiwa tentang Yesus, sudah ada sejak abad XIV. Dan ada pula kebiasaan untuk menambahkan kata-kata pelengkap, seperti misalnya, “Yang didera dengan kejam,” atau “Yang dimahkotai duri,” setelah kata “…buah tubuhmu” dan diikuti nama Yesus, dan sejumlah kalimat lain yang sejenis, dan dikutip dari Kitab Suci.

Pada abad XV ada seorang biarawan, yaitu Dominikus dari Prusia, yang adalah seorang novis, dan sesuai dengan anjuran pemimpin biaranya ia berusaha menggabungkan dua praktek doa dan renungan, yaitu doa Salam Maria, yang 50 kali, dan renungan mengenai kehidupan Yesus dan ibu-Nya. Pada tahun 1410 ia menyusun 50 seruan penutup doa Salam Maria, yang dapat langsung dihubungkan dengan nama Yesus, yang pada saat itu menjadi kata penutup doa.

Seruan-seruan rima dengan antusias sekali, dan segera menjadi populer baik dalam bahasa Latin maupun dalam bahasa Jerman. Seruan-seruan tambahan itu biasanya dibacakan oleh orang-orang yang pandai membaca (pada saat itu tidak semua orang bisa membaca). Mulai tahun 1475, di Gereja mulai bermunculan serikat-serikat yang mempopulerkan doa rosario. Dengan munculnya seni cetak, daftar 15 peristiwa yang ditetapkan sebagai landasan doa rosario mulai dikenal secara luas.

Daftar tetap dari 15 peristiwa rosario itu kiranya disusun di Spanyol, ditetapkan di negeri itu sejak tahun 1488. Daftar itulah yang disahkan oleh Paus Pius V, seorang biarawan Dominikan, ketika beliau menetapkan rosario sebagai doa yang sah (tahun 1569). Setahun sebelumnya Paus Pius V mensahkan teks doa Salam Maria, yang sampai sekarang tidak diubah.

1.2. Santo Dominikus Penerima Rosario Suci[2]

St. Dominikus, melihat bahwa dosa orang2 Albigensian sudah sangat berat, pergi menyepi ke hutan di dekat Toulouse, dimana ia berdoa tanpa henti selama tiga hari tiga malam. Selama berdoa ia tidak melakukan apapun kecuali meratap dan melakukan pertobatan yang keras untuk meredakan amarah Tuhan. Ia memohon dengan sangat disiplin dan bersungguh-sungguh, dan akhirnya ia jatuh ke dalam kondisi koma. Pada saat inilah Bunda kita menampakkan diri padanya, ditemani oleh tiga malaikat, ia berkata, “Wahai Dominikus, apakah engkau tahu senjata apakah yang diinginkan oleh Trinitas yang Kudus untuk dipakai untuk memperbaharui dunia?” “Oh, Ratuku,” jawab St. Dominikus, “engkau mengetahui jauh lebih banyak daripada aku, karena engkau selalu berada di dekat Putramu Yesus Kristus untuk menjadi kepala keselamatan bagi kami.” Kemudian Bunda kita menjawab, “Aku ingin kamu tahu bahwa, dalam situasi perang seperti sekarang ini, senjata yang paling utama selalu adalah Doa Surgawi, yang adalah batu fondasi dari Perjanjian Baru. Karenanya, jika engkau ingin menyentuh jiwa-jiwa yang telah mengeras ini dan menyerahkannya kepada Tuhan, ajarkanlah Doa ku.” Kemudian St. Dominikus bangun, merasa sangat terhibur, dan terbakar oleh semangatnya untuk mentobatkan orang-orang di wilayah tersebut, ia langsung pergi ke katedral. Ketika itu malaikat-malaikat yang tidak kelihatan membunyikan lonceng untuk mengumpulkan orang-orang, dan kemudian St. Dominikus mulai mengajar.

Pada awal khotbahnya, datang badai yang hebat, bumi serasa bergetar, matahari meredup, dan terjadi begitu banyak kilat dan cahaya sehingga semua orang merasa begitu tercekam dan takut. Perasaan takut mereka semakin menjadi-jadi ketika mereka melihat pada gambar Bunda kita yang dipasang di suatu tempat yang tinggi, mereka melihat ia menaikkan tangannya ke surga tiga kali untuk memanggil penghakiman Tuhan ke atas mereka kalau mereka tidak mau bertobat, mengubah cara hidup mereka dan mencari perlindungan pada Bunda Suci Tuhan. Melalui fenomena supernatural ini, Tuhan ingin menyampaikan devosi baru kepada Rosario Kudus dan memperkenalkannya kepada semua orang. Paling tidak, ketika St. Dominikus berdoa, badai mulai mereda, dan kemudian ia mulai berkhotbah. Begitu gamblang dan kuatnya ia menjelaskan doa Rosario sehingga hampir semua orang Toulouse mempercayainya dan meninggalkan kepercayaan lama mereka yang salah. Dalam waktu yang singkat terlihat kemajuan yang besar di kota tersebut; orang-orang mulai hidup secara Kristen dan meninggalkan kebiasaan-kebiasaan lama mereka yang buruk.

Terinspirasi oleh Roh Kudus, dan diperintahkan oleh Perawan yang Diberkati dan juga karena pengalaman pribadinya, St. Dominikus mengajarkan doa Rosario seumur hidupnya. Ia mengajarkannya dengan memberikan contoh dan juga melalui khotbah-khotbahnya, di kota-kota dan di desa-desa, kepada orang-orang kelas atas maupun kelas bawah, kepada pelajar dan orang2 yang tidak bersekolah, kepada orang-orang Katolik dan Protestan. Doa Rosario, yang ia doakan setiap hari, adalah doa persiapannya untuk setiap khotbah dan merupakan caranya berjumpa dengan Bunda kita setiap selesai khotbah. Satu hari ia harus berkhotbah di Notre Dame di Paris, dan ketika itu adalah pesta St. Yohanes Pembaptis. Ketika ia seperti biasa sedang berdoa rosario di kapel kecil di belakang altar untuk mempersiapkan khotbahnya, Bunda kita muncul di hadapannya dan berkata: “Dominkus, meskipun apa yang akan engkau khotbahkan sangat baik, tapi aku membawa kepadamu khotbah yang lebih baik.”

St. Dominikus mengambil buku yang diulurkan oleh Bunda kita, membacanya dengan cermat dan, setelah ia mengerti dan bermeditasi, ia mengucapkan terima kasih kepada Bunda. Ketika saatnya khotbah tiba, ia naik ke atas mimbar dan, meskipun hari itu adalah pesta St. Yohanes, ia malah berkata bahwa ia telah ditunjuk menjadi pengawal Ratu Surga. Jemaat pada saat itu adalah para teolog dan orang-orang terpandang dan terpelajar, yang sudah biasa mendengar ceramah-ceramah yang manis atau yang tidak lazim; tapi St. Dominikus berkata bahwa ia tidak ingin berceramah, sehingga terlihat bijak di mata dunia, tapi ia akan berbicara dalam kesederhanaan Roh Kudus dan keteladanannya yang kuat. Dan setelah itu ia mulai berbicara tentang doa Rosario dan menjelaskan tentang Bunda Suci kata demi kata seperti menjelaskan pada sekelompok anak-anak, dan ia menggunakan ilustrasi sederhana yang ada di dalam buku yang diberikan kepadanya oleh Bunda kita.

Alan yang diberkati, menurut Kartagena, menyebutkan beberapa peristiwa lainnya dimana Tuhan kita dan Bunda kita menampakkan diri kepada St. Dominikus untuk meyakinkan dan memberikan semangat kepadanya untuk terus mengajarkan doa Rosario untuk menghapuskan dosa dan mentobatkan pendosa dan orang-orang yang menyeleweng. Dalam pasal yang lain Kartagena mengatakan, “Alan yang diberkati berkata bahwa Bunda kita menampakkan diri kepadanya, setelah ia menampakkan diri kepada St. Dominikus, Putranya yang Kudus menampakkan diri kepadanya dan berkata, ‘Dominikus, Saya senang melihat kamu tidak hanya bergantung pada kebijaksanaanmu sendiri yaitu, daripada mencari doa manusia yang kosong, kamu bekerja dengan sangat rendah hati bagi keselamatan jiwa-jiwa. “Banyak imam mencoba untuk mengajar dengan keras melawan dosa yang terburuk, namun mereka tidak sadar bahwa mula-mula, sebelum seseorang yang sakit diberi obat yang pahit, ia perlu dipersiapkan dengan menempatkan pikirannya pada bingkai yang benar supaya ia bisa benar-benar memperoleh manfaat dari obat tersebut. “Maka dari itu, sebelum melakukan apapun, seorang imam harus membangkitkan semangat berdoa dalam hati manusia dan terutama cinta kepada doa Surgawi. Hanya jika mereka sudah mulai mengucapkan itu dan bertekun di dalamnya, Tuhan yang maha pengampun akan sulit untuk menolak memberikan rahmatnya. Maka dari itu aku ingin kamu mengajarkan doa Rosario-ku.”

Semua hal, bahkan yang paling suci sekalipun, bisa berubah, terutama jika mereka tergantung pada kehendak bebas manusia. Sehingga tidak heran bahwa, pada saat itu, semangat doa Rosario Suci hanya bertahan 1 abad setelah pertama kali diajarkan oleh St. Dominikus. Setelah itu, Rosario seolah-olah terkubur dan terlupakan. Tidak diragukan juga, rencana kotor dan kebencian setan, juga membuat orang-orang mengabaikan doa Rosario, sehingga menghalangi penyaluran rahmat Tuhan yang telah dibawa oleh Rosario ke atas bumi. Sehingga, pada tahun 1349 Tuhan menghukum seluruh Eropa dengan wabah yang terparah yang pernah diketahui. Mulai dari timur, menyebar ke seluruh Italia, Jerman, Perancis, Polandia dan Hungaria, membawa kehancuran di manapun wabah itu lewat, sehingga dari seratus orang jarang ada yang selamat untuk bisa menceritakan apa yang sebenarnya terjadi. Kota-kota besar, desa-desa dan biara-biara hampir benar-benar kosong selama masa tiga tahun penyebaran epidemik wabah tersebut.

Penghukuman dari Tuhan ini langsung diikuti oleh dua hukuman lainnya, penyelewengan (heresy) oleh Flagellant dan perpecahan (skisma) tragis di tahun 1376. Setelah itu, setelah pencobaan-pencobaan ini selesai, syukur kepada Allah yang maha pengampun, Bunda kita berbicara kepada Alan yang diberkati untuk menghidupkan kembali Rosario Suci. Alan yang diberkati adalah satu dari Bapa-bapa Dominican yang tinggal di biara Dinan di Inggris. Ia adalah seorang teolog yang hebat dan pengkhotbah yang terkenal. Bunda kita memilih dia karena, selain doa Rosario dimulai di daerah tersebut, ia juga adalah seorang Dominikan yang berasal dari daerah yang sama, sehingga ia memiliki karisma untuk membangun kembali kebiasaan ini.

Alan yang diberkati memulai pekerjaan besarnya di tahun 1460, setelah menerima peringatan khusus dari Tuhan kita. Beginilah caranya ia menerima pesan penting tersebut, sebagaimana diceritakannya sendiri: Satu hari ketika ia sedang mengadakan Misa, Tuhan kita, yang ingin menggerakkannya untuk mengajarkan Rosario Suci, berbicara padanya dalam Roti Kudus. “Mengapa engkau menyalibkan Aku lagi secepat ini?” kata Yesus kepadanya. “Apa maksudmu, Tuhan?” tanya Alan, ketakutan. “Engkau telah menyalibkan aku sekali dengan dosa-dosamu,” jawab Yesus, “dan aku lebih suka disalibkan lagi daripada melihat BapaKu dilukai oleh dosa-dosa yang biasanya engkau lakukan. Engkau menyalibkan aku lagi sekarang karena kamu sebenarnya telah diajarkan dan telah mengerti bahwa kamu harus mengajarkan doa Rosario IbuKu, dan kamu tidak melakukannya. Jika saja engkau melakukannya, engkau bisa menuntun banyak jiwa ke jalan yang benar dan memimpin mereka menjauhi dosa. Tapi kamu tidak melakukannya, sehingga kamu sendiri juga bersalah terhadap dosa-dosa yang mereka perbuat.”

Teguran keras ini membuat Alan yang diberkati sungguh-sungguh bertekad untuk mengajarkan doa Rosario dengan tanpa henti. Bunda kita juga berbicara padanya pada suatu ketika untuk memberikan semangat padanya untuk mengajarkan doa Rosario terus dan terus, “Engkau dulu adalah pendosa yang parah di masa mudamu, tapi aku memperoleh buah pertobatanmu dari Anakku. Jika mungkin, aku rela menjalani semua sengsara untuk menyelamatkanmu, karena para pendosa yang bertobat adalah kemenangan bagiku. Dan aku juga akan melakukannya supaya kamu bisa menyebarkan doa Rosarioku ke mana-mana.” St. Dominikus juga menampakkan diri kepada Alan yang diberkati dan bercerita padanya tentang hasil dari pengajarannya: ia telah mengajarkan doa Rosario tanpa henti, khotbah-khotbahnya telah mendatangkan banyak buah yang baik dan banyak orang telah bertobat selama ia mengajar. Ia berkata kepada Alan, “Lihatlah buah yang demikian indah yang telah aku dapatkan melalui pengajaran doa Rosario. Kamu dan yang lainnya yang mencintai Bunda kita harus melakukan yang sama sehingga, dengan melakukan doa Rosario yang kudus, engkau bisa menarik semua orang kepada ilmu pengetahuan tentang kebajikan yang sejati.” Secara garis besar, inilah cerita tentang bagaimana St. Dominikus memulai doa Rosario kudus dan bagaimana Alan de la Roche yang diberkati mengembalikan ajaran ini.

Dari sejak jaman St. Dominikus memulai devosi kepada Rosario kudus, sampai kepada waktu ketika Alan de la Roche yang diberkati memulainya lagi di tahun 1460, doa Rosario disebut dengan Doa kepada Yesus dan Maria. Ini karena doa ini mendoakan Salam Maria dengan jumlah yang sama seperti mazmur-mazmur dalam Kitab Mazmur Raja Daud. Dan karena orang-orang sederhana yang kurang berpendidikan tidak bisa mengucapkan Mazmur Raja Daud, doa Rosario dianggap memiliki manfaat yang sama bagi mereka sama seperti Mazmur Raja Daud bagi orang-orang yang lain.

Sejak Alan de la Roche memulai kembali devosi ini, suara dari orang-orang, yaitu suara dari Tuhan sendiri, memberinya nama doa Rosario, yang berarti “mahkota mawar.” Yang bermakna bahwa setiap kali orang mengucapkan doa Rosario dengan bersungguh-sungguh, mereka mengenakan ke kepala Yesus dan Maria 153 mawar putih dan 16 mawar merah. Sebagai bunga surgawi, bunga-bunga ini tidak akan pernah kehilangan atau berkurang keindahannya. Bunda kita telah menyetujui dan mengakui nama Rosario ini; ia telah menampakkan diri kepada beberapa orang bahwa setiap kali mereka mengucapkan doa Salam Maria mereka memberikan pada Bunda Maria sebuah mawar yang indah, dan setiap doa Rosario yang dilakukan dengan penuh memberikan kepadanya sebuah mahkota mawar. Jadi sebuah Rosario yang komplet adalah sebuah mahkota mawar yang besar dan setiap chaplet yang terdiri dari sepuluh doa adalah seperti sebuah booklet bunga mawar atau sebuah mahkota kecil mawar surgawi yang kita letakkan di kepala Yesus dan Maria. Bunga Mawar sendiri adalah ratu dari bunga, dan juga Rosario adalah mawar persembahan kita yang paling berarti dan bermakna.

2. Latar Belakang Rosarium Virginis Mariae

2. 1. Pengantar

Secara bertahap Rosario Perawan Maria memperoleh bentuknya pada milenium kedua atas dorongan Roh Kudus. Betapa banyak orang yang begitu mencintai doa ini dan para Pemimpin Gereja pun mendorongnya. Rosario adalah doa yang sungguh inspiratif. Bahkan sampai pada milenium ketiga doa rosario tetap dirasakan sebagai doa yang membawa para pendoanya kepada kekudusan. Rosario hadir dan menyatu dalam kehidupan setiap orang dengan mudah. Sejak awal doa ini terbentuk, keasliannya tetap nampak hingga sampai saat ini; seakan-akan Roh Allah hadir di dalamnya dan membawanya ke bagian terdalam dalam kehidupan Umat Kristiani. Oleh sebab itu, setiap orang diharuskan membawa Kristus dalam permenungannya. Lewat doa rosario Nama Kristus yang adalah “Tuhan dan Juru Selamat” dimaklumkan. Dan hal ini merupakan tujuan hidup manusia dan sasaran sejarah serta peradaban.[3]

Pada dasarnya doa rosario adalah Cermin Kristus. Artinya, lewat doa rosario kita memandang wajah Kristus yang terselip dalam wajah ‘yang penuh kesalehan’; Bunda Allah. Memang doa rosario adalah berciri khas Maria. Namun, pada hakikatnya doa rosario adalah doa yang berpusat pada Kristus (Kristosentris). Kita berdoa kepada Maria sebagai penghantar permohonan kita kepada Kristus. Doa rosario adalah gema dari doa Maria; pengagungan karya Tuhan yang telah dimulai dalam rahim Maria yang tetap perawan. Rosario memberi pelajaran yang indah bagi kita untuk mengalami cinta Allah yang tak terbatas. Bahkan melalui uluran tangan Bunda Penebus.[4]

2. 2. Munculnya Surat Apostolik Paus Yohanes Paulus II

Surat Apostolik Paus Yohanes Paulus II ini dikeluarkan pada tahun ke-dua puluh lima masa kepausan, tepatnya di Vatikan tanggal 16 Oktober 2002. Berkenaan dengan hal ini, ada beberapa hal yang mendorong paus untuk mengeluarkan Surat Apostoliknya ini:

1) Bapa Suci mau mengajak seluruh umat beriman baik itu para Uskup, Imam, Biarawan/Biarawati dan segenap umat baik lanjut usia maupun kaum muda untuk menatap wajah Kristus bersama-sama dengan Bunda-Nya; “mendaras rosario tidak lain adalah menatap wajah Kristus bersama Maria.

2) Bahwa dalam peradaban dunia yang menghadapi pelbagai tantangan, khususnya dalam masalah perselisihan dan percekcokan. Atas realitas ini, paus mengajak seluruh umat untuk menjadikan doa rosario sebagai doa perdamaian. Kristus yang adalah pusat dan tujuannya dipandang sebagai, “Pangeran Perdamaian”, itulah inti kontemplasi rosario. Paus menandaskan bahwa dengan doa rosario kita mempelajari Rahasia Damai dan menjadikan damai sebagai proyek kehidupan kita.[5]

3) Perlu digarisbawahi bahwa paus mengungkapkan dalam Surat Apostoliknya ini, doa rosario adalah intisari Injil ( dibahas pada bab berikut). Oleh sebab itu, karena kecintaan Bapa Suci untuk mendaraskan doa rosario, ia memandang rosario sebagai suatu tradisi yang indah. Hal ini dapat terlihat ketika masa mudanya. Ia sering mendaraskan doa rosario, yang menurutnya memainkan peranan penting dalam hidup rohaninya. Doa rosario menjadi teman hidupnya dalam suka-duka hidup. Ia mempercayakan setiap keprihatinan, dalam doa rosario. Maka atas dasar kecintaannya akan doa rosario sebagai sumber peneguhan, ia memperkaya doa rosario, lewat penambahan ‘Peristiwa Terang’.[6]

4) Dalam Surat Apostoliknya ini juga Paus mengungkapkan bahwa dalam arti tertentu rosario dapat dikatakan sebagai komentar atas bab terakhir ‘Konstitusi Dogmatis Lumen Gentium dari Konsili Vatikan II’, yakni bab yang memaparkan kehadiran Bunda Allah yang ajaib dan misteri Kristus dan Gereja. Dilatarbelakangi alunan kata-kata Salam Mari, peristiwa-peristiwa utama dalam kehidupan Yesus Kristus melintas di hadapan mata jiwa si pendoa. Dengan demikian, peristiwa-peristiwa itu menempatkan kita dalam persekutuan yang hidup dengan Yesus lewat; “hati Bunda-Nya”. Pada saat yang sama, sambil mendaras dasa Salam Maria, hati kita dapat merangkum semua peristiwa yang terjadi dalam hidup perorangan, keluarga, bangsa, Gereja, dan seluruh umat manusia. Doa rosario merangkum keprihatinan pribadi kita dengan keprihatinan sesama kita, khususnya mereka yang amat dekat dengan kita, yang paling kita kasihi. Jadi, doa rosario yang sederhana ini mencerminkan irama hidup manusia.[7]

2. 3. Penetapan Tahun Rosario[8]

Paus menekankan bahwa perlunya untuk mendaraskan doa rosario. Bukan saja karena ini sudah merupakan kesukaannya. Namun, rosario sendiri sudah terbukti sebagai doa yang sungguh membawa manfaat yang besar dalam perjalanan hidup umat Kristiani. Sehingga umat diundang untuk masuk dalam permenungan hidupnya. Meninggalkan hal-hal yang sekuler dan membawa segala keprihatinan kepada Kristus lewat Bunda Penebus. Dalam surat Apostolik Novo Millennio Ineunte, Paus mengundang umat Allah untuk “menyegarkan diri dalam Kristus”. Ia hendak melanjutkan renungannya dalam Surat Apostolik itu, sehingga ia merasa terdorong untuk menawarkan sebuah renungan tentang doa rosario, sebagai pelengkap pada surat itu dan sebagai dorongan kepada umat untuk menatap wajah Kristus bersama-sama dengan Bunda-Nya yang amat kudus, dan sambil berguru padanya. Paus mengungkapkan, untuk menggarisbawahi undangannya, sekaligus merayakan ulang tahun ke-122 Ensiklik Paus Leo XII, ia menambahkan agar selama tahun 2002 dan 2003 doa rosario mendapat perhatian khusus dan digalakkan dalam berbagai jemaat Kristiani. Maka, atas dasar itu, Paus memaklumkan Tahun Rosario yang berlangsung dari Oktober 2002 sampai Oktober 2003.

Bapa suci memberikan usulan pastoral ini kepada kebijakan masing-masing komunitas gerejawi. Sebenarnya ia tidak bermaksud mendikte, tetapi hanya mau melengkapi dan memadukan program-program pastoral Gereja Partikular. Ia berkeyakinan bahwa pasti usul yang ia berikan ini akan diterima oleh seluruh umat dengan senang hati. Doa rosario, setelah dipulihkan artinya, akan langsung menyentuh intisari kehidupan kristiani; doa rosario menawarkan peluang sederhana tetapi mujarab untuk membangun hidup rohani dan meningkatkan renungan pribadi, pembinaan umat Allah, dan evanggelisasi baru.

2. 4. Krisis Rosario[9]

Dalam penyusunan Surat Apostolik ini paus telah mempertimbangkan suatu hal yang ia anggap sangat mendesak. Hal ini adalah keperluan mendesak untuk menanggulangi krisis rosario, yang dalam konteks sejarah dan teologi masa kini bisa memudarkan khazanah nilai doa rosario. Ini didasarkan pada adanya bahaya bahwa doa rosario tidak lagi diajarkan kepada generasi muda. Ada sejumlah orang yang mengira bahwa sentralitas liturgi, yang dengan tepat ditekankan oleh Konsili II, dengan sendirinya menurunkan pentingnya doa rosario. Padahal, seperti dijelaskan Paus Paulus VI, doa rosario sama sekali tidak bertentangan dengan liturgi; malah sebaliknya, doa rosario itu menopang liturgi, karena rosario dapat menjadi pengantar yang unggul untuk liturgi, dan gema yang tepat dari liturgi. Doa rosario membuat umat mampu berpartisipasi penuh secara lahir dan batin dalam liturgi, dan darinya memetik buah untuk kehidupan mereka sehari-hari.

Ada juga orang yang beranggapan bahwa doa rosario kurang ekumenis karena sifat khasnya yang menonjolkan Maria. Tetapi, doa rosario termasuk jenis penghormatan Bunda Allah yang dilukiskan oleh konsili: suatu devosi yang diarahkan pada inti Kristologis dari iman kristiani, sedemikian rupa sehinga “bila si ibu dihormati, Sang Putra pun dikenal, dikasihi, dan dimuliakan dengan semestinya. Kalau dihayati dengan tepat, doa rosario akan membantu dan pasti tidak menghambat ekumenisme.

Dalam kaitan dengan kebudayaan masa kini, bahkan di tengah begitu banyak indikasi kontra, kita saksikan berkembangnya panggilan baru untuk spiritualitas, antara lain karena pengaruh agama-agama lain. Maka, lebih mendesak daripada kapan pun kelompok-kelompok kristiani hendaknya menjadi ‘sekolah doa sejati.’

BAB II

ROSARIO SEBAGAI DOA YANG KRISTOSENTRIS

1. Bersama Maria Kepada Yesus

Maria adalah Bunda Kristus. Ia tidak pernah lepas dari “ kerja sama “ dalam karya keselamatan Allah. Maria dengan tulus hati mengambil bagian, demi terwujudnya rencana dan ide Allah. Hal itu juga masih ia tunjukkan sampai sekarang ini, pada saat ini. Guna menopang doa yang diilhamkan Kristus dan Roh Kudus dalam hati kita, Maria campur tangan dengan keprihatinan bundawinya[10]. Sang Bunda, masih mengingat tugas pertamanya yang diberikan oleh Yesus. “ Hai Ibu, inilah anakmu!” (Yoh 19:26). Ibu Maria, tetap menilik kita sebagai anak-anaknya; sebagaimana yang telah ia lakukan terhadap murid-murid Yesus. Bahkan ia terus menghaturkan doa-doanya kepada Sang Putra, agar umat manusia dapat terhindar dari segala mara dan kesulitan hidup. Boleh dikatakan, tidak sedikit Bunda Penebus telah bermohon kepada Yesus agar anak-anaknya (umat manusia) tidak serta-merta diberikan hukuman atas tindakan buruk mereka.

Diawali dengan kerja sama unik antara Maria dan Roh Kudus, Gereja mengembangkan doanya kepada Bunda Allah yang kudus, sembari memusatkan doa itu pada pribadi Kristus yang terungkap dalam misteri-misteriNya. Dalam pesta perkawinan di Kana, Injil dengan jelas menunjukkan kekuatan doa Maria ketika ia memberitahukan kepada Yesus kebutuhan orang lain, “ mereka kekurangan anggur “ (Yoh 2:3). Oleh sebab itu, dari kita diharuskan pula “kerja sama” dengan Bunda Maria. Bukan hanya, Bunda Maria saja yang senantiasa menyampaikan doa bagi kita kepada Yesus.

1.1. Bersama Mari Mengenang Kristus

Rosario Perawan Mari pertama-tama menampakkan suatu ciri doa yang meditatif. Bersama Maria kita merenungkan arah dan jalan hidup kita. Tapi semua itu, tidak lepas dari arah dan pandangan iman yang menjadi landasan. Pribadi Yesus yang hadir dalam pengalaman pewartaan dan pelayanan-Nya menjadi sumber yang amat penting. Karya Yesus dalam sebuah peristiwa, telah mengukir suatu tanda yang memeri bekas, yang tidak mungkin tidak meninggalkan jejak. Hidup pewartaan dan pelayanan Yesus yang terangkai dalam berbagai “ momen iman” itulah yang menjadi arah pandang hati kita dalam kontemplasi.

Selain murid-murid, Maria yang adalah Bunda Yesus; ia mempunyai hubungan batin dengan Yesus; amat bermakna dalam proses merealisasikan “ mutiara iman “ dalam batin setiap orang. Dari hati Bunda Penebus terpancar cahaya iman; yang membuahkan inisiatif untuk “ mengenang “ karya Allah dalam diri Yesus. Dalam arti tertentu, hal ini juga berlaku untuk setiap pendekatan iman terhadap peristiwa-peristiwa di atas; “ mengenang “ –nya dengan semangat iman dan kasih berarti membuka diri untuk rahmat yang dimenangkan Kristus bagi kita lewat misteri hidup, wafat dan kebangkitan-Nya. Dalam permenungan, kita bukan saja dituntut untuk terlibat, tetapi masuk ke dalamnya. Ke dalam peristiwa-peristiwa yang adalah karya keselamatan Allah yang dapat membuahkan rahmat bagi setiap orang.; benar-benar masuk dalam kedalaman kasih Allah. Dengan menyelami misteri kehidupan Penebus, kita mendapat jaminan bahwa apa yang telah ia lakukan dan apa yang telah dihadirkan oleh liturgi sungguh terserap dalam diri kita dan membentuk diri kita menjadi serupa dengan Dia.[11]

1.2 Dari Maria Belajar Mengenal Kristus

Pada bagian pertama pembahasan sub bab ini, sudah disinggung bahwa Yesus, Sang Putra sesudah kebangkitannya, memberikan mandat perutusan sebagai Bunda bagi para murid-murid-Nya (Yoh 19:26). Tentu mandat ini, ia pegang dan ia laksanakan dengan tulus dengan rasa bundawinya. Diceritakan sebelumnya juga dalam Injil; 2 garis peristiwa penting. Pertama, pada saat Maria menerima kabar gembira dari Malaikat Tuhan; di situ dikisahkan bagaimana ia menanggapi rencana Allah yang membutuhkan partisipasinya untuk ambil bagian di dalamnya (Bdk Yoh 1:38). Kedua, pada saat pesta perkawinan di Kana; ditampilkan juga bagaimana peran Maria (Bdk Yoh 2:5). Dari peristiwa-peristiwa itu kita dapat menemukan dalam refleksi iman bahwa Maria tampil bukan saja sebagai Ibu melainkan sebagai “Guru”. Maria yang lebih jauh mengenal Yesus dibandingkan dengan kita, mau mengajarkan kepada kita bagaimana Yesus sebenarnya.. Merenungkan peristiwa-peristiwa rosario bersama dengan Maria berarti belajar dari dia “mengenal” Kristus, menemukan rahasia-rahasiaNya, dan memahami amanat-Nya. Maria mengundang kita untuk berbuat seperti yang ia lakukan pada waktu menerima kabar malaikat; mengajukan pertanyaan dengan rendah hati sekedar untuk memahami, dan sesudah paham, menerimanya dengan ketaatan iman.[12]

1.3 Bersama Maria, Menjadi Serupa dengan Kristus

Dalam penghayatan iman kristiani kita, apabila ditelaah dengan baik; khususnya berkaitan dengan Maria dan Yesus, kita akan menemukan suatu hal yang sedikit unik. Maria, apabila dihubungkan dengan Yesus, akan ditemukan suatu hal yang pararel atau berkaitan erat. Sikap kesalehan, ketaatan dan penyerahan diri secara total dari Maria turut juga mewarnai hidup Yesus. Dalam hal ini, sikap Maria mempunyai kesamaan dengan sikap Yesus tanpa harus dibandingkan dengan hal lain. Ini dapat kita temukan lewat perkataan yang telah diungkapkan oleh Maria maupun perkataan (sabda) yang telah diungkapkan oleh Yesus. Dalam menanggapi karya keselamatan Allah, Maria pernah berkata; “ Sesungguhnya aku ini adalah hamba Tuhan, terjadilah padaku menurut perkataan-Mu” (Luk 1:38). Maria mengungkapkan penyerahan dirinya secara total, tanpa takut menerima konsekuensi dari apa yang telah ia ungkapkan. Ia sungguh menunjukkan kesalehannya. Hal yang sama, juga ditemukan dalam diri Yesus ketika Ia mulai merasa takut sebagai seorang manusia menjelang sengsara-Nya. Di taman Getsemani Ia mengungkapkan ketaatan dan penyerahan diri-Nya kepada Bapa demi terlaksananya karya keselamatan. “ Ya Bapa-Ku, jikalau Engkau mau, ambillah cawan ini dari pada-Ku; tetapi bukanlah kehendak-Ku, melainkan kehendak-Mulah yang terjadi” ( Luk 22:42 ). Jadi lewat Bunda Maria kita dapat mengenal Putranya, Yesus. Mengenal karya-karya dan pewartaan-Nya. Maria telah membuka jalan masuk bagi kita, kepada pribadi Kristus yang tercermin di dalam dirinya. Terus menerus berusaha untuk menjadi serupa dengan Kristus melalui Bunda Mari berarti secara serempak telah membangun spiritualitas kristiani dalam hidup. Dalam peziarahan batin yang terungkap dalam doa rosario kita dapat menjalin persahabatan dengan Kristus. Menjadi sahabat Kristus berarti mulai mengenal Kristus lebih dalam. Teladan yang cocok, yang bisa kita ambil adalah dalam diri dan hidup Maria; di dalam diri Maria terseliplah pribadi Kristus. Sehingga devosi kepada Bunda Maria, merupakan devosi yang secara tak sadar telah membawa kita kepada proses untuk menjadi serupa dengan Kristus. Hanya dalam doa rosariolah kehidupan Yesus dan kehidupan Maria tampak begitu terpadu.

1.4 Bersama Maria Memaklumkan Kristus

Tiap kali kita mendaraskan doa rosario, di dalamnya kita merenungkan peristiwa-peristiwa ilahi yang terungkap dalam Injil Tuhan. Tanpa kita sadari, secara sederhana, Kristus yang adalah Tokoh Injil telah kita wartakan. Misteri Karya keselamatan Allah itu, telah membawa kita pada meditasi dan kontemplasi iman yang nantinya mendorong setiap pendoanya untuk mengumandangkan buah iman itu kepada orang lain. Nah, hal inilah yang menjadi pokok atau inti permenungan rosario; menghidupkan serta membawa kembali peristiwa-peristiwa suci itu ke dalam diri lalu menyampaikannya kepada orang lain. Bukan saja, hanya dipendam dan direnungkan secara pribadi. Melainkan rahmat yang telah diterima dibagikan kepada orang lain sebagai “ buah permenungan rosario”. Dengan demikian, kita telah berpastoral demi implementasi Injil Tuhan dalam hidup orang-orang kristiani. Sejarah rosario menunjukkan bagaimana doa ini digunakan khususnya oleh para dominikan pada saat-saat Gereja mengalami kesulitan karena merebaknya sesatan-sesatan. Dewasa ini kita menghadapi tantangan-tantangan baru. Mengapa kita tidak sekali lagi berpaling kepada rosario dengan iman yang sama seperti mereka yang telah mendahului kita? Doa rosario tetap memiliki segala kekuatannya dan tetap menjadi sarana pastoral yang ampuh untuk setiap penginjil yang baik.

2. Rosario Sebagai Ungkapan Iman Terhadap Kristus

Iman merupakan arahan hati sepenuhnya kepada Allah serta segala kuasa dan kehendak dan penyelenggaraan-Nya. Lebih lagi merupakan penyerahan diri secara total kepada Allah. secara sederhana rosario dalam hubungannya dengan iman dapat ditunjukkan dengan syahadat para rasul yang sering digunakan untuk membuka doa rosario. Alasan teologisnya adalah untuk membangkitkan keutamaan-keutamaan Ilahi (iman, harapan, kasih). Maka, jelaslah indikator yang membuktikan doa rosario sebagai doa iman.[13]

Selain akal budi dan potensi-potensi lainnya, ada dimensi dalam diri manusia yang sering kali tidak disadari. Religiositas merupakan dimensi hakiki yang melekat dalam diri manusia. Manusia dengan sendirinya melalui keyakinannya mencari sarana yang memungkinkan untuk pembinaan religiositasnya. Rosario merupakan salah satu sarana yang mendukung sikap religius doa sejati. Rosario tidak perlu ditolak selama berperan sebagai penunjang religiositas rakyat kristen.[14] Devosi dan penghormatan kepada Maria menarik kita supaya menghayati misteri Kristus dengan masuk secara mendalam ke dalam sejarah keselamatan:

Maria secara istimewa menggemakan kembali doktrin iman yang paling penting; maka apabila dia merupakan pokok pengajaran dan kebaktian maka ia mendorong kaum beriman datang kepada Putera-Nya, kepada kurbannya dan kepada kasih Bapa (LG 65). Kehidupan yang menghormati Maria jauh daripada merintangi dengan cara apa saja persatuan kaum beriman dengan Kristus, bahkan sebaliknya meneguhkannya (LG 60).[15]

Doa rosario mengandung aspek-aspek penting dalam pengembangan spiritualitas umat Kristiani. Semangat untuk hidup dalam kesatuan trinitas, sikap untuk menyerupai Kristus serta keterbukaan terhadap sabda dan Roh Kudus. Semua aspek ini merupakan ciri khas dari hidup Maria. Berdoa rosario berarti kita ambil bagian dalam irama hidup Maria. Meniru dan mengembangkan teladan iman yang dicontohkan Maria, yang menganggap karya keselamatan Allah sebagai bagian dari hidupnya bahkan lebih penting dari hidupnya. Doa rosario mengandaikan kita untuk berdialog dengan Maria yang secara bersamaan membuka jalan kepada kita untuk berelasi dengan Allah dan dalam tekad untuk melanjutkan karya penyelamatan Allah yang diwariskan kepada kita.[16]

2.1. Rosario Sebagai Ringkasan Injil Tuhan

Rosario sebagai ringkasan Injil merupakan sebutan yang dipaparkan oleh Paus Pius XII. Ia mengatakan bahwa rosario merupakan “sintesa seluruh Injil. Kemudian Paus Paulus VI menekankan lagi bahwa rosario merupakan doa Injil. Ia melukiskannya dengan kata-kata berikut: “Sebagai doa Injil, yang dipusatkan pada misteri inkarnasi yang menyelamatkan, rosario adalah doa yang memiliki orientasi Kristologis yang gamblang.[17]

Sekilas struktur rosario menunjukkan hal itu benar-benar suatu doa berdasarkan Kitab Suci, gambar terutama terhadap Injil. Pengakuan Iman Rasuli sendiri, memimpin doa rosario, tidak lain adalah ringkasan dari misteri besar iman Katolik, yang sebagian besar adalah standar ajaran-ajaran Injil. Setiap dekade didahului oleh Bapa Kami, sebuah doa langsung dari Injil dan diajarkan oleh Yesus sendiri sebagai model dari semua doa. Bagian pertama dari Salam Maria terdiri dari ayat-ayat dari Injil Lukas (1:28 dan 1:42): kata-kata malaikat mengumumkan kelahiran Kristus dan Salam Elisabet kepada Maria. Kedua bagian Injil ini kaya makna dan menunjuk pada pusat misteri iman kita, inkarnasi dari Mesias.

Maria mengambil peran kunci dalam misteri Kristus bukanlah penemuan rosario. Sebaliknya, ini adalah bagian penting dari Injil yang hanya tercermin dalam rosario. Perasaan umat beriman bahwa doa rosario adalah sebuah doa kepercayaan dalam cinta Maria dan syafaat bagi kita adalah berakar dalam Kabar Baik Injil. Salam Maria adalah bagian dari Injil yang digambarkan, apalagi, mengungkapkan perawan sebagai dinamis, wanita penuh rahmat kepada siapa Tuhan menawarkan peran penting dan aktif dalam drama keselamatan. Paus Paulus VI melihat hal ini dengan jelas ketika ia menulis “Maria … memberinya izin aktif dan bertanggung jawab … untuk bagian ‘peristiwa zaman,’ sebagai Inkarnasi dari Firman telah dapat disebut … wanita modern yang dicatat akan dengan senang dan mengherankan bahwa Maria dari Nazareth, sementara benar-benar mengabdikan diri kepada kehendak Allah, jauh lebih penurut menjadi wanita malu-malu atau salah satu kesalehan yang anti kepada orang lain, sebaliknya, ia tidak ragu untuk menyatakan bahwa Allah membenarkan yang rendah hati dan tertindas dan menghapus orang-orang berkuasa di dunia ini dari posisi istimewa mereka” (dalam Devosi kepada Maria, Art. 37). Jika rosario benar-benar mencerminkan semangat Injil dan bahwa Perawan Maria seperti yang digambarkan dalam Kitab Suci, maka itu harus didorong, antara lain, tanggung jawab dinamis di pihak perempuan dan laki-laki komitmen untuk berjalan dalam kemiskinan Allah.[18]

2.2. Rosario Sarana Merenungkan Misteri Kristus

Hanya pengalaman keheningan dan doa menawarkan pengaturan yang tepat untuk pertumbuhan dan perkembangan sejati, setia dan konsisten akan pengetahuan tentang misteri; “Dan firman itu telah menjadi daging dan diam di antara kita, penuh kasih karunia dan kebenaran; kita telah melihat kemuliaan-Nya, kemuliaan sebagai satu-satunya Putra dari Bapa” (Yoh 1:14).

Merenungkan Kristus melalui berbagai tahap hidup-Nya, membawa kita untuk berhadapan muka dengan identitas kita sendiri. tapi mungkin Tuhan cukup kuat untuk bersuka ria dalam cara yang monoton. Hal ini mungkin bahwa Allah berkata kepada kita setiap pagi ‘Lakukan lagi’ ke matahari’ dan setiap malam ‘Lakukan lagi’ ke bulan. Ini mungkin tidak otomatis kebutuhan yang membuat semua rangkaian bunga kehidupan; itu mungkin bahwa Allah membuat setiap bunga kehidupan kita secara terpisah, namun Ia tidak pernah merasa bosan membuat hal ini.

Merenungkan jejak-jejak kehidupan Kristus membawa kita pada kesadaran diri sejati. Merenungkan kelahiran Kristus, kita belajar dari kesucian hidup; melihat rumah tangga dari Nazareth kita belajar kebenaran asli dari keluarga sesuai misteri-misteriNya demi pelayanan publik, kita menemukan cahaya yang membawa kita untuk memasuki Kerajaan Allah dan mengikuti-Nya dalam perjalanan ke Kalvari, kita belajar makna penyelamatan dan penderitaan. Merenungkan Kristus lewat Bunda Maria dalam kemuliaan, berarti kita melihat tujuan ke arah mana kita dipanggil, jika kita membiarkan diri kita disembuhkan oleh Roh Kudus. Pada saat yang sama, menjadi wajar bagi kita untuk membawa doa rosario serta semua masalah, kegelisahan, niat dan usaha yang membentuk hidup kita kepada Tuhan.[19] Doa rosario adalah doa renungan yang sangat indah. Tanpa unsur renungan, doa rosario akan kehilangan maknanya. Tanpa renungan, doa rosario menjadi ibarat tubuh tanpa jiwa dan ada bahaya bahwa pendarasannya akan menjadi pengulangan kata-kata secara mekanis. Sedari hakikatnya, pendarasan rosario membawa irama yang tenang dan tetap. Ini akan membantu orang untuk merenungkan misteri-misteri kehidupan Kristus.[20]

2.3. Rosario, “Sarana Kontemplasi”

Secara hakiki setiap manusia membutuhkan campur tangan dan penyelenggaraan Tuhan dalam hidupnya. Penyelenggaraan kasih Tuhan itu dapat diterima secara utuh apabila orang benar-benar sadar dan mengimani hal ini. Kedekatan dan hubungan mesra dengan Tuhan dapat secara insani, merasa bahwa Tuhan adalah sumber hidup dan mutlak untuk diperlukan. Realitas dari intimitas dalam relasi dengan Allah dapat terjalin salah satunya adalah lewat doa. Kontemplasi merupakan “permenungan dalam doa.” Doa sering disebut sebagai sarana yang paling efektif untuk berkomunikasi dengan Tuhan. Dalam kaitannya dengan kontemplasi, rosario tampil sebagai fasilitas rohani yang mengagungkan. Sehingga tidak salah kalau doa rosario itu merupakan doa yang kontemplatif dan meditatif.

Paus Yohanes Paulus II menandaskan bahwa doa rosario merupakan sarana yang paling efektif untuk mengembangkan di kalangan kaum beriman komitmen untuk berkontemplasi pada misteri kristiani. Dalam berbagai tantangan dan tuntutan zaman yang terjadi, kita tidak harus meninggalkan identitas kita sebagai manusia yang sadar akan relasi dengan Sang Pemberi Hidup: yakni Tuhan sendiri. Tapi kita dituntut untuk mengembangkan panggilan baru untuk spiritualitas kristiani. Maka sangat perlulah kehidupan kristiani yang menonjol dalam hal berdoa. Bukankah kita senantiasa telah menerima rahmat dan cinta yang cuma-cuma dari Allah. Apakah yang harus kita lakukan untuk menanggapi rahmat dan cinta Allah itu? Secara sederhana adalah kita harus bersyukur. Rosario yang bersifat kontemplatif membawa kita untuk merenungkan kebaikan Tuhan yang senantiasa hadir dalam perjalanan hidup sehari-hari. Rosario menjadi semacam “sekolah kekudusan” bagi kita di mana kita dapat belajar dari Maria untuk mengasihi sesama kita.

3 Model Doa Rosario

Dalam tatanan Gereja, Doa Rosario memiliki kedudukan sebagai devosi (devotio/devovere= menjanjikan, mengikrarkan, membaktikan). Doa Rosario merupakan devosi kepada Bunda Maria dan doa yang berciri Marial. Dalam tataran teologi doa rosario disejajarkan dengan kata Mario-duli (= kebaktian kepada Bunda Maria). Menurut tradisi teologi Kristen kata “doulia” itu menjadi istilah dengan arti “kebaktian kepada seorang manusia (orang kudus). Oleh karena ibu Yesus menjadi yang paling kudus di antara semua orang kudus, maka bagi kebaktian kepada Maria terbentuk istilah khusus, yaitu: “hyper-doulia”, artinya ‘adi-kebaktian’. Namun juga perlu diingat bahwa devosi Maria yang memiliki ciri sebagai devosi religius; tetap menentukan hubungannya dengan arahan iman kepada Allah. Penekanan pada devosi Maria itu adalah penghormatan kepadanya karena peranannya dalam karya keselamatan Allah serata kedudukannya dalam relasi dengan Allah dan Manusia. Jadi bukan penyembahan tidak ditunjukkan kepada Maria melainkan penghormatan.[21]

Berangkat dari analisa doa rosario dalam lingkup doa Gereja; rosario merupakan doa yang komtemplatif dan meditatif. kontemplasi pada wajah Maria yang di dalamnya terselib wajah Yesus menunjukkan nilai doa yang begitu mendalam dan berharga. Memang doa rosario berciri khas Maria namun perlu diperhatikan bahwa pada hakikatnya doa rosario tetap merupakan doa yang ‘kristosentris’. Dalam mendoakannya setiap umat tidak harus menanggalkan pandangan ini dalam benaknya. apabila hal ini diabaikan, maka kedudukan doa rosario dalam liturgi Gereja akan terancam. Nantinya, akan timbul praktek-praktek doa yang dangkal dan tidak sehat yang hanya dilandasi dorongan emosional dan hanya sekedar formalitas saja.

3.1 Rosario “Cermin Kristus”

Sebelumnya telah disinggung bahwa doa rosario adalah doa kontemplatif. Sehingga para pendoanya diundang masuk dalam situasi keheningan. Unsur doa rosario inilah yang menawarkan pengaturan yang tepat dalam situasi hati untuk pertumbuhan perkembangan spiritual sejati. Pengulangan berkali-kali pada doa rosario tanpa disadari melatih kesetiaan dan kekonsistenan dalam pengetahuan tentang misteri Kristus serta karya penyelamatan-Nya. Merenungkan Kristus dengan kata lain adalah merenungkan Sang Sabda. Menyelami hidup Sang Sabda yang telah menjadi manusia. Doa rosario mau mengajak kita untuk ikut masuk dalam alam Sabda yang adalah Allah sendiri. Sabda Suci Allah yang telah rela menanggalkan ke-mahakuasaaan-Nya. Secara jelas Injil Yohanes 1:14 memberikan landasan Biblisnya: “Firman itu telah menjadi manusia, dan diam di antara kita, adan kita telah melihat kemuliaan-Nya, yaitu kemuliaan yang diberikan kepada-Nya sebagai Anak Tunggal Bapa, penuh kasih karunia dan kebenaran”. Maka, sekali lagi menjadi sangat nyata ciri khas utama doa rosario sebagai doa yang Kristosentris. Kristus, Sang Sabda menjadi objek permenungan dalam doa tersebut.[22]

Rosario sebagai “cermin Kristus” berarti di dalam-Nya terukir dan terkandung peristiwa hidup Kristus yang penekanan lebih pada karya-Nya. Analisis yang lebih dalam sebagai lanjutan telaah dari doa rosario terhadap Yesus sebagai Sang Sabda adalah hidup dari-Nya. Apabila diambil pertanyaan analisanya maka akan jadi sebagai berikut: Apa yang mau kita renungkan dalam doa rosario sebagai doa yang Kristosentris? Kita akan menemukan jawaban bahwa Yesus Kristus; Sang Sabdalah yang menjadi pusat permenungan kita. Lanjutan dari pertanyaan itu adalah: Apa yang mau kita renungkan dari Yesus Sang Sabda itu? Jawabannya adalah hidup-Nya. Tentu dari rangkaian pertanyaan dan jawaban itu kita akan menemukan bahwa karya Yesuslah yang patut kita renungkan. Karya Yesus menjadi teladan yang sepantasnya dimiliki yang nantinya akan menuntut perwujudannya. Perwujudan atau implikasi dari hidup dan karya Yesus itulah yang menjadi hasil dari permenungan doa rosario. Tapi pada sub bab ini kita lebih melihat prosesnya; kita merenungkan misteri dan karya Yesus dan sampai pada praksisnya mengandaikan kita menampilkan kembali peristiwa-peristiwa yang terangkai dalam perjalanan hidup Yesus. Oleh sebab itu, nampaklah bahwa doa rosario memantulkan cahaya hidup Yesus dalam hidup umat Kristiani. Hidupnya menjadi pedoman yang sangat diperlukan demi pembuktian diri sebagai manusia Kristiani.

Rosario sebagai cermin Kristus berarti kita menemukan cahaya yang membawa kita untuk memasuki kerajaan Allah dan mengikutinya dalam perjalanan ke Kalvari. Lebih terang lagi, kita menatap pada cermin hidup Yesus; menelusuri album sejarah hidup-Nya; mulai dari kelahiran, karya-Nya, sengsara, wafat dan kebangkitan-Nya. Kita belajar makna penyelamatan dan penderitaan. Setiap butir permenungan rosario mencerminkan diri Yesus yang secara utuh menyelenggarakan karya penyelamatan bagi umat manusia.

3.2 Rosario “Doa Keluarga”

Doa rosario merupakan kekayaan Gereja Katolik yang harus dipertahankan. Sudah sepantasnya, umat Katolik mewariskan doa rosario secara turun-temurun dalam kalangan keluarga. Keluarga menjadi tempat yang subur untuk menanamkan doa ini. Apabila dalam suatu keluarga seorang anak diperbiasakan mengikuti doa rosario, itu akan menjadi tanda saluran iman katolik yang membekas dan membentuk kepribadian. Doa rosario menjadi doa pemersatu dalam keluarga agar menjadi satu ikatan yang kuat. Lewatnya, setiap anggota keluarga dimungkinkan untuk berpartisipasi aktif dan membuka jalur-jalur komunikasi.[23] Komunikasi yang dihadirkan lewat doa rosario sangat penting dalam suatu keluarga. Banyak masalah yang ditemukan dalam keluarga dewasa ini hanya karena kurangnya komunikasi. Rosario menjadi pemecah dan penembus batas-batas “ketidaksalingpengertian” yang menjadi pengancam eksistensi keluarga Kristiani.[24]

Semangat hidup keluarga umat kristiani perdana menjadi gambaran yang indah yang melandasi persekutuan hidup bakti bersama. Mereka berkumpul di Bait Allah bersama-sama, memecah-mecah roti dan memuji Allah (Bdk. Kis 2:46). Dimensi doa dan ibadat keluarga ini berakar pada pengalaman iman orang-orang Perjanjian Lama, yang telah diwarisi oleh masyarakat Kristen. Memang, diketahui bahwa makan malam Paskah itu dirayakan di rumah dalam perayaan keluarga. Keluarga sebagai Gereja kecil memerlukan irama hidup seperti itu. Semangat hidup iman tersebut apabila disejajarkan dengan tradisi yang mengalir hingga saat ini adalah doa rosario. Rosario menjadi semacam “nafas iman” keluarga Katolik. Keheningan rosario dapat melatih mentalitas kelembutan hidup keluarga. Sambil menatap pada wajah Yesus yang memancarkan belas kasih mengarahkan keharmonisan dan kelanggengan hidup dalam keluarga.

Teladan keluarga kudus dari Nazaret dapat menjadi tampilan yang indah bagi perjalanan hidup keluarga Kristiani. Para anggota keluarga dapat menempatkan Yesus di tengah-tengah hidup mereka. Bahkan dalam setiap suka-duka hidup mereka dipercayakan kepada “Objek” doa rosario tersebut. Yesus sebagai buah hati keluarga kudus menjadi tempat penyerahan semua harapan bagi pengembangan hidup. Maria menjadi teladan bagi setiap Ibu untuk tetap rendah hati, saleh, dan dengan kepenuhan hati mau menyerahkan diri pada penyelenggaraan kasih Allah. Sikap saling pengertian dan ketekunan dalam iman menjadi panutan bagi setiap bapak keluarga dalam mengarahkan keluarganya.

3.3 Rosario “Doa Perdamaian”

Damai secara fungsional merupakan situasi yang diinginkan oleh setiap orang. Hal ini disebabkan karena dalam keadaan damai tidak ada satu pihak yang dirugikan. Maka sudah sepantasnya setiap orang menginginkan kedamaian untuk senantiasa hadir dalam langkah dan perjalanan hidupnya. Apabila ditempatkan dalam konteks iman Kristiani damai merupakan bingkisan yang di bawah oleh Yesus sebagai hadiah bagi setiap orang. Sehingga tidak jarang ditulis bahwa Yesus adalah “Pembawa Damai”. Pada bagian sebelumnya sudah disinggung bahwa inti permenungan rosario adalah Pribadi Yesus sendiri serta hidup dan karya-Nya. Maka dari itu rosario sebagai doa Injil Tuhan menampilkan Tokoh Yesus. Secara mendasar dapat dicermati bahwa apabila merenungkan pribadi Yesus berarti ikut pula merenungkan karya “Pendamaian-Nya.” Dengan demikian, rosario secara tak langsung mau menuntut kita untuk memiliki damai dalam diri sebagaimana Yesus sendiri. Paus Yohanes Paulus II mengemukakan dalam Surat Apostoliknya tentang rosario “doa perdamaian” sebagai berikut:

“Doa rosario pada hakikatnya adalah doa untuk perdamaian, karena inti doa ini adalah kontemplasi akan Kristus, Pangeran Perdamaian, Dia yang adalah “damai kita” (Ef 2:14). Barangsiapa merenungkan misteri Kristus- dan itulah tujuan doa rosario-, ia mempelajari rahasia damai dan membuat damai menjadi proyek hidupnya. Lebih dari itu, berkat ciri meditatifnya, dengan alur Salam Maria yang tenang, doa rosario dapat menciptakan damai dalam hati mereka yang mendarasnya. Rosario dapat membuka hati si pendoa untuk menerima damai sejati yang adalah anugerah khusus dari Tuhan yang bangkit (bdk. Yoh 14:17; 20:21), mengalaminya dalam lubuk hati yang terdalam, dan menyebarkannya.”[25]

Kedalaman dan keheningan doa rosario mengisyaratkan serta menyuarakan damai. Dari wajah Bunda Maria terpancarlah kelembutan hati yang dipenuhi oleh kedamaian yang secara serentak mewakili kedamaian Sang Putra. Rosario dengan ciri Marialnya menuntun diri kita ke arah kedamaian suasana hati sebagaimana Maria yang memiliki hati yang damai dalam menyambut Sabda Allah. Maria menyimpan semua perkara dalam hatinya. Secara implisit terungkap bahwa apabila Maria dapat menyimpan semua perkara dalam hatinya itu berarti dia memiliki ketenangan hati yang luar biasa. Hal itulah yang nantinya akan membimbingnya pada penyerahan diri sepenuhnya pada kasih Allah. Sehingga ia memperoleh anugerah yang begitu besar dari Allah. Kabar gembira yang datang dari Allah disambut dengan kesehajaan dan kesederhanaan diri yang juga mengungkapkan kedamaian secara murni.

Dalam kaitannya dengan damai itu pula; Yesus telah menunjukkan diri-Nya sebagai “Tokoh Perdamaian Sejati”. Ia berani melakukan sesuatu demi memperjuangkan perdamaian. Ia tanpa takut memprotes orang-orang Farisi dan ahli-ahli Taurat yang menekan orang-orang zaman-Nya yang mengancam perdamaian dan menghadirkan pertikaian. Ia membawa damai dari Allah; sehingga tak jarang ungkapan populer setelah kebangkitan-Nya adalah “damai sejahtera besertamu”. Yesus telah merasakan proyek damai-Nya telah terselesaikan. Sehingga Ia membagikan damai itu kepada orang lain. Ia pula telah merombak pandangan orang Yahudi yang mengharapkan Sang Mesias yang gagah dan perkasa; yang datang dengan pedang untuk membebaskan mereka dari penindasan bangsa Romawi. Sebaliknya Yesus telah menunjukkan ‘kerajaan damai’ Allah yang telah terwujud dalam karya karitatif-Nya. Mendaraskan doa rosario berarti turut menghadirkan Kristus, “Sang Tokoh Perdamaian Sejati”; sambil berusaha untuk memiliki damai itu dalam diri serta membuatnya benar-benar hidup dalam perjalanan kehidupan kita.

3.4 Rosario “Rantai Penghantar Kepada Allah”

Meskipun kelihatannya doa rosario sangat sederhana namun memiliki kedalaman teologi suatu doa yang memungkinkan setiap orang untuk memiliki ketenangan hati karena dimensi kontemplatifnya. Sehingga Gereja senantiasa memasrahkan baik secara biasa maupun secara radikal segala masalah dan gejolak hidupnya pada doa ini. Doa rosario sering dianggap manjur oleh kebanyakan umat Katolik. Maka, perkembangannya pun mendapat tempat dalam perjalanan kehidupan umat. Kontinuitas doa ini tidak bisa ditolak untuk mempertebal segi tradisinya.

Bila dipikir secara sederhana, sungguh menakjubkan butir-butir atau manik-manik rosario dianggap sebagai sesuatu yang memberi kekuatan dan harapan. Hal ini tidak bisa dianggap sebagai suatu kekeliruan atau suatu kesalahan. Siapa yang bisa menyangkalnya? Doa rosario memang demikian. Namun, yang perlu dijaga adalah soal pandangan umat terhadapnya. Arahan iman tidak sepantasnya dan seharusnya diarahkan secara total dan terfokus pada manik-manik rosario itu, Perlu ditegaskan bahwa esensi yang ada di dalamnya adalah Kristus yang menjadi “Objek” dari doa rosario itu. Rantai rosario meskipun secara langsung fungsinya dapat dilihat sebagai sarana untuk mempermudah dalam perhitungan pada proses pendarasan, namun secara teologis dan esensial benar-benar merupakan penghantar kepada Allah. Hakikatnya yang Kristosentris mengungkapkan hubungan kausalitas dari iman berkat dorongan devosi berciri Maria ini kepada Kristus dan sampai pada Allah Bapa. Ciri Kritologisnya yang tidak dapat disangkal tidak bisa tidak mengingatkan setiap pendoanya kemudian membawanya pada “Sang Sumber Hidup”.

Dalam kesejajarannya dengan doa Gereja, ada juga doa yang senada; yaitu doa “Kerahiman Ilahi”. Rantai dari doa Kerahiman Ilahi ini secara signifikan memberi pengaruh pada perkembangan doa rosario. Menurut sejarahnya rantai Kerahiman Ilahi ini diperkenalkan oleh Santa Faustina Kowalska, seorang biarawati yang tinggal di Plok, Polandia. Tema doa ini adalah rahmat dan berfokus pada tiga bentuk rahmat; untuk mendapat rahmat, untuk percaya pada rahmat Kristus, dan untuk menunjukkan belas kasihan kepada orang lain. Pengaruh yang lebih nampak yaitu ditunjukkan oleh permenungan pada tema kedua; untuk percaya kepada rahmat Kristus. Perlulah setiap pendaras menghayati tema yang satu ini dalam doa rosario. Rantai rosario yang merupakan lingkaran yang dihubungkan oleh Salib, mengandaikan dan menuntut kita untuk mengikuti hidup Tuhan Yesus yang bermuara pada sengsara-Nya pada kayu salib. Singkatnya dalam ketenangan medaraskan doa rosario sembari menggerakkan jemari tangan pada manik-manik rosario secara perlahan membawa pendoanya pada keheningan batin yang sangat membantu untuk memasuki dan mendalami keagungan misteri Allah yang terungkap dalam pribadi Yesus Kristus.

BAB III

REFLEKSI TEOLOGIS, RELEVANSI DAN IMPLIKASI

DOA ROSARIO

1. Apa yang Terjadi dengan Doa Rosario Dewasa ini?

Pertanyaan yang sangat cocok sebagai analisa langkah awal dari permasalahan tentang doa rosario adalah seperti tertera pada sub bab pertama pada bab ketiga ini. Apa yang terjadi dengan doa rosario dewasa ini? Tanggapan umum mengenai doa rosario adalah bahwa doa itu sungguh merupakan doa yang sangat populer. Pertama-tama, hal ini dikarenakan umat katolik dengan bangga menunjukkannya sebagai identitas keKatolikan. Meskipun tidak semuanya, namun dapat ditemui bahwa ada umat-umat Katolik yang dengan setia memakai rantai rosario sebagai penunjuk identitas keKatolikanya. Alasan lain juga yaitu karena mereka menganggap bahwa dengan cara demikian, itu sudah menjadi jaminan dari anugerah dan berkat pertolongan yang dapat ia terima dari Tuhan. Pemikiran sederhana dapat diambil bahwa doa rosario bisa saja dianggap suatu magik yang manjur. Doa yang sungguh memberi kekuatan. Ada juga kenyataan bahwa umat Katolik menggantungkan rantai rosario pada ambang pintu rumah, dalam rumah bahkan di tempat manapun yang memungkinkan.

Pantaskah umat Katolik berpikir bahwa doa rosario (rantai rosario) sebagai sebuah sarana yang memberi perlindungan dan berkat? Bukan saja mungkin bisa tetapi masalah ini perlu diangkat sebagai langkah pemurnian semangat devosional. Dalam tatanan Gereja Katolik khususnya dalam bidang Liturgi; Gereja menempatkan dan memberikan bulan khusus sebagai ‘Bulan Rosario.’ Paus Yohanes Paulus II, sebagai pencinta doa rosario yang memprakarsai hal ini. Apabila dilihat dari sejarahnya juga, ada cukup banyak dalam kalangan pemimpin Gereja yang mengidolakan doa ini; khususnya juga para paus. Deretan paus seperti; Leo X, Pius V, Pius IX, Leo XII, Pius XI, Pius XII, Yohanes XXII, bahkan sampai Paus Yohanes Paulus II sangat menganjurkan doa rosario. Dorongan inilah yang memberi pengaruh bagi perkembangan hidup devosi Marial ini.[26] Gerakan inilah yang cukup memberi akar yang kuat bagi doa rosario. Sehingga kita dapat menjumpai kenyataan yang seperti kita lihat sekarang ini; di mana doa rosario cukup mendapat tempat dalam hati setiap orang Katolik. Mengenai bulan rosario, umat dewasa ini juga memakai bulan Mei sebagai bulan rosario. Padahal, bulan Mei merupakan bulan yang dikhususkan bagi Maria. Tetapi karena kecintaan mereka pada doa rosario, sehingga seakan-akan bulan Mei juga merupakan asli Bulan Rosario. Mungkin karena pemikiran bahwa Bulan Mei itu Bulan Maria maka yang cocok dan sebaiknya digunakan doa rosario karena hubungannya dengan Bunda Maria. Padahal devosi kepada Bunda Maria tidak sebatas pada Doa Rosario saja. Masih ada Doa Novena. Kesan yang ditemukan adalah umat (tidak semuanya) seakan-akan memberi batas mengenai hidup doa hanya pada doa rosario saja.

Ada juga kenyataan yang ditemukan bahwa umat mempersiapkan Perayaan Ekaristi dengan doa rosario. Persiapan dengan doa pribadi (doa rosario) menjadi jalan untuk memasuki Perayaan Ekaristi. Meskipun sudah jarang (tidak seperti dulu: zaman Prakonsili dan tidak lama sesudahnya) tapi kenyataan ini merupakan suatu hal yang eksklusif. Banyak juga umat yang mengunjungi tempat-tempat ziarah (khususnya tempat ziarah Bunda Maria) untuk melakukan doa rosario. Hal demikian nampaknya sudah menjadi semacam tradisi yang indah yang tidak bisa dipungkiri dan ditolak. Siapakah yang bisa mengatakan bahwa hal demikian merupakan suatu deviasi atau penyimpangan terhadap ajaran iman Katolik tanpa bertolak pada dasar atau motif yang digunakan untuk. Untuk pembahasannya akan dikupas pada sub bab berikutnya:

1.1 Refleksi Teologis atas Doa Rosario

Semua orang tahu bahwa doa rosario merupakan doa yang berciri khas Maria. Pernyataan awal inilah yang dapat ditarik sebagai argumen pembantu untuk menjawab permasalahan pada sub bab ini. Namun, titik tolaknya adalah kita harus sedikit menyinggung mengenai refleksi teologis dan ajaran tentang Ibu Yesus. Dengan kata lain, kita akan sedikit memasuki tataran Mariologi sebelum masuk pada diri rosario itu sendiri. Refleksi teologis terhadap Maria adalah permenungan pada relasi antara Allah dan Maria yang nampaknya adalah unik. Maria mempunyai relasi dengan Allah bukan karena secara otomatis karena dia adalah ibu Yesus atau karena ia melahirkan Yesus. Tetapi karena ia dengan sungguh-sungguh dan penuh keyakinan tanggap terhadap karya keselamatan Allah yang diberikan kepadanya.

Teologi berusaha secara rasional dan teratur menjernihkan dan memikirkan kedudukan dan peranan Maria dalam sejarah dan tata penyelamatan. Apa yang pada dasarnya dipersoalkan dalam teologi tentang Maria, Mariologi, ialah: sejauh mana manusia, yang ditebus/diselamatkan, sebagai subjek mandiri (otonom) di hadapan Allah berperan secara aktif dalam penyelamatan? Kristus tentunya Manusia dan Juru Selamat. Tetapi justru sebagai Juru Selamat dan Penebus, Kristus bukan Manusia belaka menurut iman kepercayaan Kristen. Maka Kristus bukan jawaban atas masalah tersebut: mana peranan manusia dalam penyelamatan? Adapun ibu Yesus, Maria, ia menjadi contoh jitu yang dengannya masalah itu mendapat jawabannya berdasarkan apa yang dalam Maria dinyatakan oleh Allah, sehingga Maria memang termasuk ke dalam penyataan/pewahyuan ilahi. Sebab Maria adalah manusia belaka, manusia yang diselamatkan, ditebus Allah melalui Yesus Kristus. Pada Maria secara dasariah menjadi nyata mana peran manusia dalam penyelamatan.

Setelah sedikit memasuki ranah teologi Maria, menjadi terang bagi kita bahwa Maria adalah bukan saja orang yang diselamatkan atau ditebus. Tetapi ia secara mandiri ambil bagian di dalamnya. Peranan Maria inilah yang memberi pengakuan bagi Gereja dan bagi devosinya sendiri. Devosi merupakan salah satu bentuk penghayatan iman; suatu sikap hati serta perwujudannya, yang dengannya orang secara pribadi/bersama mengarahkan diri kepada sesuatu atau seseorang, yang dihargai, dijunjung tinggi, dicintai dan ditujui. Maria pantas menerima penghormatan melalui dovosi karena ia merupakan pahlawan iman. Perlu juga direnungkan bahwa pada dasarnya devosi itu selalu memiliki kadar dan nilai religius. Kadar dan nilai religiositas selalu diukur dengan cara bagaimana atau sejauh mana devosi itu dapat menghantar kepada Allah yang satu-satunya sasaran utama yang menghimpun semua devosi maupun kebaktian. Maria dihormati karena hubungannya dengan Allah. Apabila dibuat pertanyaan untuk mencari alasan kebaktian pada semua bentuk doa dan devosi bahkan semua sarana pengembangan hidup spiritual, maka jawabannya akan senantiasa tertuju pada Allah itu sendiri.

Doa yang sering disebut sebagai sarana komunikasi dengan Allah, selalu mengungkapkan kerinduan manusia akan relasinya dengan Sang Pemberi Hidup (Allah sendiri). Dasar, landasan, serta motif ini seharusnya juga menjadi milik setiap orang dalam mendaraskan doa rosario. Sehingga tidak muncul praktek pengembangan spiritual yang dangkal atau kering. Apabila hal ini terjadi, maka akan memberi kemungkinan bahwa orang mengikuti doa rosario hanya sekedar formalitas saja. Seharusnya rasa kerinduan terhadap Allah sembari memandang diri sebagai orang yang tidak punya apa-apa di hadapan Allah menjadi motif yang mendorong untuk mengembangkan aspek religiositas lewat doa rosario.

1.2 Relevansi dan Implikasi

Doa rosario adalah doa yang begitu menyatu dalam hidup umat. Alasannya; karena doa rosario dapat dengan mudah disesuaikan dengan hidup umat. Pernah dibahas pada bagian sebelumnya dari karangan ini, bahwa doa rosario tidak mengharuskan adanya patokan liturgi yang resmi atau aturan yang perlu diperhatikan. Unsur-unsur doa rosario, seperti Salam Maria, Kemuliaan, Bapa Kami juga sering digunakan sebagai doa-doa yang siap pakai kalau tidak adanya rumusan pribadi. Dalam pendarasannya juga tidak ditetapkan bahwa lima butir dalam satu peristiwa harus didoakan semuanya. Bahkan ada gaya doa yang sedikit berbeda; misalnya sudah ditambah dengan bacaan dari Kitab Suci, renungan atau semacam penjelasan pada tiap-tiap butir dari peristiwa rosario dan bahkan sudah dipadu dalam sebuah ibadat. Sehingga ada juga istilah yang muncul dengan “ibadat rosario”, meskipun rosario bukanlah sebagai sebuah ibadat. Apabila dibuat sebuah penelitian di berbagai tempat dalam kalangan umat Katolik ada berbagai gaya doa yang akan ditemukan meskipun tidak cukup berbeda jauh. Hal ini dikarenakan oleh salah satu cirinya yang bebas.

Berbicara mengenai implikasi doa rosario ada dua bagian yang dapat ditarik. Pertama, mengenai peristiwa yang mewarnai kekayaan doa rosario itu dan Kedua adalah ciri-ciri yang dapat diambil daripadanya. Kita tahu sendiri bahwa ada empat peritiwa dalam doa rosario; yaitu, peristiwa sedih, gembira, mulia, dan terang. Empat peristiwa ini merupakan kekayaan pengembangan hidup spiritual dan hidup praksis umat. Peristiwa sedih dan gembira mengingatkan akan Allah yang selalu hadir dalam suka-duka hidup kita. Seperti Paus Yohanes Paulus II yang selalu mempercayakan suka-duka hidupnya dalam doa rosario. Rosario menjadi teman hidupnya yang selalu mengiringi langkah dan perjalanan hidupnya. Lewat kedua peristiwa ini juga kita akan diingatkan bahwa kita pasti akan menjalani dua situasi ini yang merupakan bagian dari hidup yang harus kita terima. Mengenai peristiwa Mulia, yaitu; mengingatkan kita untuk selalu memuliakan Allah yang telah memberi hidup kepada kita. Menunjukkan kemuliaan Allah lewat pewartaan iman, katekisasi dan lain sebagainya. Kita sebagai ciptaan Allah yang mulai seharusnya menjaga kemuliaan kita bukan sebaliknya merendahkan martabat kita lewat perbuatan-perbuatan bobrok. Kita juga dituntut untuk semakin menunjukkan kerendahan diri di hadapan Allah dan turut ambil bagian dalam kemulian Allah. Allah semakin dimuliakan lewat kerendahan hati kita di hadapan-Nya. Terakhir adalah peristiwa terang; lewat peristiwa terang kita diundang untuk ‘mencari Terang’ yaitu Tuhan Yesus sendiri. Kita diundang untuk menunjukkan gaya hidup sebagai “anak-anak terang”. Dengan demikian, kita berarti harus hidup dalam terang Kristus; yaitu hidup menurut kehendaknya.

Bagian kedua yaitu; mengenai ciri-cirinya. Cirinya yang kontemplatif membantu kita untuk memperoleh ketenangan hidup. Memiliki alur hidup yang tenang sebagaimana Maria dengan ketenangan hatinya dan kerendahan hatinya menerima karya keselamatan Allah dalam dirinya. Ketenangan hati untuk mengatasi dan menghadapi segala tantangan dan gejolak hidup. Kemudian unsur kedamaian yang terdapat dalam doa rosario seakan-akan mengajak kita untuk hidup dalam kedamaian. Tindakan lebih yang bisa dilakukan adalah membawa damai Kritus bagi semua orang. Dapat pula dengan menjadikan damai sebagai irama hidup dan gaya hidup kita. Cirinya yang meditatif menuntut kita untuk mengetahui bahwa hidup Kristiani adalah hidup yang senantiasa direfleksikan, yaitu berefleksi mengenai relasi pribadi sendiri dengan sesama dan Tuhan. Sejauh mana dan apakah sudah cukup baik atau tidak. Terakhir dari bagian kedua ini adalah mengenai cirinya sebagai doa keluarga. Keluarga adalah persekutuan kecil dari hidup. Dalam kaitannya dengan ciri ini kita dipanggil untuk bersatu dalam persekutuan cinta Allah untuk membentuk keluarga Kristen sejati.

PENUTUP

Meskipun doa rosario merupakan doa yang berciri khas Maria, namun pada hakikatnya doa rosario adalah doa yang Kristosentris. Kristus adalah “Objek” dasar yang melampauhi Maria. Konsep yang bisa digunakan adalah keterkaitan relasi yang terungkap dalam jiwa devosi Marial ini. Hubungan dengan Maria pada dasarnya menghantar kita pada hubungan dengan Putera-Nya, Yesus Kristus dan hubungan dengan Yesus Kristus adalah mutlak untuk menghantar kita pada hubungan dengan Allah Bapa. Hubungan dengan Allah Bapa inilah merupakan tujuan diadakannya kegiatan hidup devosional. Pencarian akan relasi dengan Allah senantiasa menjadi alasan utama dan pantas sebagai perwujudan hidup devosional (Doa Rosario) yang sungguh-sungguh religius. Kekuatan relasi suci ini pula menjadi tolak ukur untuk mengetahui sejauh mana doa rosario ini sungguh dapat mengembangkan segi “religiositas” manusia tanpa lepas juga dari implikasi dari buah-buah permenungan rosario.

Kesimpulannya, dalam doa rosario Maria dihormati bukan disembah sebagai sang adi-kodrati. Alasan Maria dihormati yaitu; karena ia telah menjadi pahlawan iman bagi umat manusia. Apabila Maria lebih ditonjolkan dalam doa rosario dibandingkan dengan Yesus-Allah, maka akan muncullah pengembangan hidup spiritual yang dangkal dan akan menjadi sebuah penyimpangan atau deviasi. Perlu diketahui pula bahwa pengembangan hidup doa/spiritual tidak hanya sampai pada doa rosario saja. Devosi Marial (doa rosario) ada karena Maria memiliki kedudukan dan tempat dalam karya penyelamatan Allah dan perannya pada relasi manusia dengan Allah dan sebaliknya. Jiwa iman doa rosario adalah bahwa dengan doa rosario Maria menjadi sebagai cerminan pribadi Kristus. Maria menjadi pantulan dari Kristus; sehingga dalam doa rosario lebih-lebih dicari bukan pantulannya tapi aslinya. Landasan inilah yang sangat membantu dalam pemurnian semangat devosional. Alasan dari landasan iman itu adalah bahwa Maria memiliki ciri kepribadian yang sedikit sama dengan Yesus (sudah dijelaskan pada Bab II). Maria membuka pintu masuk bagi karya, rencana Allah terhadap Manusia, karena Yesus yang lahir dan Yesus menunjuk jalan kepada Rumah Bapa, terwujudnya karya penyelamatan Allah; hubungan damai antara Allah dan Manusia.

Daftar Pustaka

Buku-buku

Bifet, J. Esquerda. Maria: Model Gereja dalam Tugas Perutusan. Jakarta: Biro Nasional Karya Kepausan Indonesia, 1998.

Cronen, C. Mariologi: Teologi dan Devosi. Yogyakarta: Kanisius, 1989.

Guste, Bob. Maria di Sampingku. Ende: Nusa Indah, 1988.

Kristiyanto, Eddy. Maria dalam Gereja. Yogyakarta: Kanisius, 1990.

Maloney, George. Maria Rahim Allah [Marry: The Womb of God]. Terj. Frans Harjawiyata. Yogyakarta: Kanisius, 1990.

Mcbrido, Alfred. Pendalaman Iman Katolik, Jilid 2. Jakarta: Obor, 2005.

Musakabe, Herman. Bunda Maria Pengantara Rahmat Allah. Bogor: Citra Insan Pembaru, 2006.

Stinissen, Wilfried. Maria dalam Kitab Suci dan dalam Hidup Kita [Maria ini de Bibel, in Ons Leven]. Terj. Cyprianus Vervek. Malang: Dioma, 1987.

Van Passen, Jan. Devosi dan Deviasi. Jakarta: PT Cahaya Pineleng, 2007.

Dokumen-dokumen Gereja

Konferensi Waligereja Indonesia, Surat Apostolik Paus Yohanes Paulus II kepada Para Uskup, Klerus dan Kaum Beriman tentang Rosario Perawan Maria (16 Oktober 2002), Dokpen KWI (2005).

Konferensi Waligereja Indonesia, Anjuran Apostolik Paus Paulus VI untuk Menghormati Maria (2 Februari 1974), Dokpen KWI (2006).

Sumber Internet

Fred Henry. “Merenungkan Wajah Kristus; Meditasi Memperjelas Rosario Jiwa Kita kepada Jalan yang Benar” (20 Januari 2003), diambil dari: http://www.wcr.ab.bishops.com (18 November 2009).

Thomas A. Thompson, Jac Wintz, “Rosario Doa Injil” (5 Agustus 2004), diambil dari http://www.americancatholic.org (18 November 2009).

B. Mali. “Sejarah Rosario” (21 September 2004) diambil dari: http:www.shvoong.com (22 November 2009)

S. Louis Marie, “ Sejarah Doa Rosario” (12 Mei 2003), diambil dari :http://www.ekaristi.org (19 November 2009)


[1] B. Mali, “Serajah Rosario” (21 September 2004) diambil dari :http://id.shvoong.com (22 November 2009)

[2] S. Louis Marie, “ Sejarah Doa Rosario” (12 Mei 2003), diambil dari :http://www.ekaristi.org (19 November 2009)

[3] KWI, Surat Apostolik Paus Yohanes II, Imam Agung. Kepada Para Uskup, Klerus dan Kaum Beriman Tentang Rosario Perawan Maria (16 Oktober 2002), Dokpen KWI (2003), hal. 7.

[4] Ibid, hal. 8.

[5] Ibid, hal. 3.

[6] Bdk. “Rosarium Virginis Mariae”, hal. 3

[7] Ibid, hal. 9.

[8] Ibid, hal. 9-10.

[9] Ibid, hal. 10-11.

[10] Konferensi Waligereja Indonesia, Surat Apostolik Paus Yohanes Paulus II kepada Para Uskup, Klerus dan Kaum Beriman tentang Rosario Perawan Marial. (16 Oktober 2002), Dokpen KWI (2005), hlm. 18.

[11] Bdk. Surat Apostoli Paus Yohanes Paulus II kepada Para Uskup, Klerus dan Kaum Beriman tentang Rosario Perawan Maria. hlm. 16-17.

[12] Bdk. Surat Apostoli Paus Yohanes Paulus II kepada Para Uskup, Klerus dan Kaum Beriman tentang Rosario Perawan Maria. hlm. 17-18.

[13] C. Gronen, Mariologi: Teologi dan Devosi (Yogyakarta: Kanisius, 1989), hlm. 175.

[14] Ibid, hlm. 177

[15] J. Esquerda Bifet, Maria: Model Gereja dalam Perutusan (Jakarta: Biro Nasional Karya Kepausan Indonesia, 1988), hlm. 53.

[16] Bdk. J. Esquerda Bifet, Maria: Model Gereja dalam Tugas Perutusan (Jakarta: Biro Nasional Karya Kepausan Indonesia, 1988), hlm. 64.

[17] Konferensi Waligereja Indonesia, Surat Apostolik Paus Yohanes Paulus II kepada Para Uskup, Klerus dan Kaum Beriman tentang Rosario Perawan Marial. (16 Oktober 2002), Dokpen KWI (2005), hlm. 22.

[18]Thomas A. Thompson, Jac Wintz, “Rosario Doa Injil” (5 Agustus 2004), diambil dari http://www.americancatholic.org (18 November 2009).

[19] Fred Henry. “Merenungkan Wajah Kristus; Meditasi Memperjelas Rosario Jiwa Kita kepada Jalan yang Benar” (20 Januari 2003), diambil dari: http://www.wcr.ab.bishops.com (18 November 2009).

[20] Konferensi Waligereja Indonesia, Surat Apostolik Paus Yohanes Paulus II kepada Para Uskup, Klerus dan Kaum Beriman tentang Rosario Perawan Marial. (16 Oktober 2002), Dokpen KWI (2005), hlm. 16.

[21] C. Gronen, Mariologi: Teologi dan Devosi (Yogyakarta: Kanisius, 1989), hlm. 149.

[22] Fred Henry. “Merenungkan Wajah Kristus; Meditasi Memperjelas Rosario Jiwa Kita kepada Jalan yang Benar” (20 Januari 2003), diambil dari: http://www.wcr.ab.bishops.com (18 November 2009).

[23] Musakabe Herman, Maria Pengantara Rahmat Allah (Bogor: Citra Insan Pembaru, 2006), hlm. 183-184.

[24] Konferensi Waligereja Indonesia, Surat Apostolik Paus Yohanes Paulus II kepada Para Uskup, Klerus dan Kaum Beriman tentang Rosario Perawan Maria. (16 Oktober 2002), Dokpen KWI (2005), hlm. 44-45.

[25] Konferensi Waligereja Indonesia, Surat Apostolik Paus Yohanes Paulus II kepada Para Uskup, Klerus dan Kaum Beriman tentang Rosario Perawan Maria. (16 Oktober 2002), Dokpen KWI (2005), hlm. 42-43.

[26] C. Gronen, Mariologi: Teologi dan Devosi (Yogyakarta: Kanisius, 1989), hlm. 149

0 Responses so far.

Posting Komentar