1. Pendahuluan
Ada satu istilah yang begitu menarik yang sudah tidak jarang lagi untuk didengar: Ignoratia Scriptura Ignoratia Christi (tidak mengenal Kitab Suci, tidak mengal Kristus). Istilah ini mempunyai arti yang begitu mendalam. Secara implisit tulisan itu menyatakan bahwa sarana yang paling otentik untuk mengenal Kristus adalah Kitab Suci. Tetapi di sini penulis tidak akan bicara panjang lebar tentang Istilah tersebut atapun mau mengajak anda untuk membahas tentang istilah itu. Lewat pernyataan di atas kita dapat melihat betapa pentingnya Kitab Suci sebagai sarana pengemabangan Iman. Mengapa demikian? Di dalam Kitab Suci kita dapat menemukan jawaban dari pertanyaan “Siapakah Yesus itu?” Lebih-lebih kita akan dapat melihat karya-karya yang telah dibuatnya. Karya-karya yang telah membuat banyak orang kagum atasnya. Bahkan, atas dasar iman Kristiani merupakan karya-karya yang telah memeberikan keselamatan bagi umat manusia. Dalam proses untuk semakin mengenal Kristus, pertama-tama seperti seorang yang belum saling mengenal, tentunya kita harus berkenalan terlebih dahulu. Biodata Yesus yang dapat membantu kita untuk mengenal-Nya ada dalam Kitab Suci. Pada awalnya juga kita tentunya akan berjumpa dengan berbagai gelar-gelar Yesus. Apabila kita hubungkan dengan proses pengenalan tadi, maka gelar-gela tadi dapat kita samakan dengan nama panggilan untuk Yesus sendiri.
Kitab Suci mencatat begitu banyak gelar-gelar Yesus. Baik itu gelar-gelar Yesus yang digunakan dan disebutkan oleh Yesus sendiri maupun gelar-gelar yang disebutkan oleh orang lain berdasarkan pengalaman iman akan Yesus Kristus. Tetapi dalam karangan yang singkat ini, penulis akan membawa anda untuk sedikit melihat satu gelar dari Yesus yang begitu menarik. “Anak Manusia” merupakan gelar faforit Yesus yang sering digunakan-Nya dan merujuk pada pribadi-Nya sendiri. Istilah “Anak Manusia” ini merupakan satu istilah yang kontroversial dan menjadi pusat perdebatan para ahli dlam bidang ilmu kristologi maupun Kitab Suci. Hal ini terjadi karena di sisi lain Yesus disebut dan menyebut dri-Nya sebagai Anak Allah (Mat 16:16,17; Yoh 8:58, 10:30) tetapi di sisi lain juga Yesus menyebut diri-Nya sebagai “Anak Manusia ( Mat 8:20, 24:30 dst.). Selain dari itu juga alasan penyebutan istilah “Anak Manusia” sangat bermacam-macam dan berbeda-beda. Latar belakangnya pun dipertentangkan. Bukan itu saja, keasliaan makna dari istilah itu dipertentangkan. Para ahli bahkan menggunakan analisis linguistik, kultural, analisis naskah dan banyak hal untuk memecahkan masalah ini. Jadi sangat pentinglah bagi kita untuk mengerti hal ini dan bahkan isi muatannya. Yesus toh bukan dengan sengaja dan tanpa maksud mengungkapkan dirinya sebagai “Anak Manusia”. Pengenalan akan Yesus tentunya tidak hanya sampai pada nama Yesus Kristus semata. Tetapi lebih dari itu memahami siapakah Yesus itu dalam kaitannya dengan “Anak Manusia”, Mengapa Yesus menyebut diri-Nya sebagai Anak Manusia? Dalam Bab ini kita akan mempersempit pembahasan “Anak Manusia” dalam Kitab Matius khsusnya dalam bab 24 ayat 30. Tidak menutup kemungkinan juga dijeskan istilah “Anak Manusia” dalam konteks ayat Kitab Suci lain.
2. Latar Belakang Istilah “Anak Manusia”
Istilah “Anak Manusia ini muncul sebanyak 231 kali dalam Kitab Suci. Dalam Perjanjian Baru termuat sebanyak 82 kali dan hampir seluruhnya dalam Injil. Hanya satu kali ditemukan dalam Kisah Rasul 7:56. Dari data tersebut langsung dapat disimpulkan bahwa sebagian besar istilah itu termuat dalam Perjanjian Lama. Tapi mengapa jarang ditemukan pembahasan dalam Perjanjian Lama. Perjanjian Lama kebanyakan tidak bisa dijadikan rujukan karena istilah “Anak Manusia’ hampir seluruhnya menunjuk pada manusia itu sendiri (bukan Yesus Kristus). Klaisifikasi teks anak manusia dalam perjanjian lama dapat disusun dalam tiga bagian. Pertama, teks yang menunjuk pada manusia itu sendiri ( Umat Israel), Kedua, teks yang menunjuk pada anak manusia sebagai Nabi, sebagai kepanjangan tangan Allah dalam mengungkapkan karya keagungannya ( 90 kali terdapat dalam Kitab Yehezkiel), yang Ketiga, tingkat yang lebih tinggi dari itu yaitu rujukan yang sering dihubungkan dengan Perjanjian Baru (khususnya Mrk 13:26) yaitu Daniel 7:13.
Kebanyakan ahli berpendapat bahwa Daniel 7:13 ini merupakan rujukan yang digunakan oleh Yesus pula. Gelar “Anak Manusia” yang digunakan oleh Yesus merupakan alternatif dari nama atau gelar Mesias. Teks dari Kitab Daniel: Aku terus melihat dalam penglihatan malam itu, tampak datang dengan awan-awan dari langit seorang seperti anak manusia; datanglah ia kepada yang Lanjut Usianya itu, dan ia dibawa kehadapannya. Lalu diberikan kepadanya kekuasaan dan kemuliaan dan kekuasaan sebagai raja, maka orang-orang dari segala bangsa, suku bangsa dan bahasa mengabdi kepadanya. Kekuasaannya ialah kekuasaan yang kekal, yang tidak akan lenyap, dan kerajaannya yang tidak akan musnah ( Daniel 7: 13-14) ini diyakini sebagai Latar Belakang pengungkapan istilah Anak Manusia oleh Yesus. Yesus digambarkan sebagai Seorang Yang Sudah Lanjut Usianya. Maka nyatalah evidensi dari pengkaitan teks yang digunakan oleh para ahli di atas ( Mrk 13:26 dan Daniel 7:13). Secara gamblang kedua teks tersebut memiliki nada yang sama yaitu berbicara mengenai kedatangan Anak Manusia dalam kemuliaan. Teks dari Markus tersebut pada dasarnya adalah teks yang sama dengan ‘pembahasan’ ( Mat 24:30) yang juga berbicara mengenai kedatangan Anak Manusia dalam kemuliaan dan kekuasaan-Nya.
Sekali gambaran Dan 7: 1-13 ditafsirkan secara mesiani, maka langkah berikut harus diperhatikan: -- kerajaan lama telah dikuasai seorang seperti anak manusia. Anak manusia ini tentu saja menjadi gelar mesiani, gelar tokoh terpilih, terurapi oleh Allah.
Ciri-ciri gambaran Anak Manusia seperti dilukiskan Daniel ini merupakan ciri-ciri gambar yang cocok dengan pribadi Yesus yang berkuasa karena kelembutan kasih, bukan karena kekuatan senjata. Tetapi masih ada unsur sejarah yang juga ikut mempengaruhi warna gelar itu. Keyakinan umat Israel bahwa mereka itu umat terpilih tidak pernah pudar. Namun sejarah mereka rasanya tidak cocok dengan keyakinan tersebut. Sampai kini, mereka lebih banyak terhina, di antara bangsa-bangsa mereka lebih menjadi jajahan. Menjadi jelas bagi mereka itu bahwa mereka tidak bisa memenuhi harapan luhur tersebut. Harapan itu di atas kekuatan manusiawi. Maka juga menjadi jelas bahwa Mesias yang didambakan, dengan ciri-ciri kelembutan itu, tidak pernah bisa melepaskan mereka dari ikatan itu dan mengantar mereka ke arah kebesaran seperti mereka dambakan. Yang dibutuhkan lalu kuasa dan kekuatan ilahi, yang mampu menghancurkan lawan-lawan Israel; kekuatan itu adalah kekuatan Allah yang mencintai dan memilih Israel serta menjadi lawan musuh-musuh Israel! Gambaran ini muncul dala tulisan Kitab Henokh yang mendapat bentuk tetapnya sekitar tahun 70. Dalam buku itu anak manusia mendapat ciri ilahi, menunggu saat dilepas dari lingkuangan ilahi untuk mendatangkan pembalaan dan mengadili dunia (lih. RH. Charles, Enoch 46: 1-6; 48:2-10; 62:5-16; 63: 11; 69: 26-29; 70:1).
Dengan demikian gelar anak manusia mempunyai daya kekuatan melahirkan tokoh yang membebaskan dunia dari teror dan kekerasan. Inilah gambaran yang hidup di benak orang di zaman itu.
3. Konteks Pembahasan Perikop Kedatangan Anak Manusia –Perumpamaan Tentang Pohon Ara (Mat 24: 29-36)
Perikop Kedatangan Anak Manusia-Perumpamaan Tentang Pohon Ara terangkum dalam satu bagian besar yaitu Khotbah Tentang Akhir Zaman. Semua perikop yang ada di dalamnya merupakan pemberitaan-pemberitaan Yesus mengenai penderitaan-Nya, nasihat supaya berjaga-jaga guna mempersiapkan kedatangan-Nya, dan sampai pada pemberitaan-Nya mengenai kedatangan-Nya yang mulia jaya. Perikop-perikop tersebut memiliki nilai relativitas dan saling berkaitan satu sama lain. Serta menganalogikan sebuah alur cerita yang berkelanjutan. Teks-teks tersebut seakan telah dipersiapkan oleh Yesus dalam rangka mewujudkan karya keselamatan yang telah ditetapkan-Nya.
Bagian sebelumnya dari perikop pembahasan di atas berbicara mengenai pemberitaan Yesus mengenai penderitaan-Nya. Perikop pertama Ia menggambarkan diri-Nya sebagai Bait Allah yang akan diruntuhkan yang mana diceritakan tidak ada satupun tersisa daripada-Nya (Bdk. Mat 24:2). Hal ini akan terbukti kemudian di mana Yesus mengalami penderitaan yang begitu keji di kayu salib; yang tersisa pada-Nya hanyalah sehelai kain yang membungkus tubuh-Nya. Kemudian sebagai Manusia Yesus merasa khawatir atas iman para murid yang mulai menanyakan tanda kedatangan-Nya yang sebenarnya adalah kebangkitan mulia sesudah penderitaan. Dalam perikop ini juga Yesus menceritakan rahasia iman mengenai penderitaan bersama Yesus sebagai konsekuensi untuk mengikuti-Nya. Nah, pada perikop berikutnya yang mendekati pembahasan terletaklah alasan mengapa Yesus menggunakan alternatif nama Mesias. Secara terang-terangan perikop ini memberi jawaban penggunaan istilah Anak Manusia adalah untuk menghindari anggapan orang di zaman Yesus sebagi seorang yang diharapkan untuk mengusir penjajah Roma dengan kekuasaan dan kekuatan. Dengan kata lain juga, Yesus tidak mau memamerkan kekuasaan-Nya dan meninggikan diri-Nya dengan secara langsung menyatakan bahwa Ia adalah Mesias yang dinanti-nantikan itu. Meskipun sebenarnya Ia adalah Mesias yang sesungguhnya yang menyelamatkan umat manusia dengan belas kasih dan perdamaiaan dan bukan dengan pedang dan kekerasan. Sehingga Yesus menyatakan diri-Nya sebagai Anak Manusia untuk menunjukkan kerendahan-Nya tetapi sekaligus secara implisit menunjukkan hubungan dengan Allah.
Perikop sesudah pembahasan adalah nasihat supaya berjaga-jaga dan perumpamaan tentang hamba yang setia dan hamba yang jahat (Mat 24: 37-44, 24: 45-51). Sangatlah cocok bahwa kedua perikop ini merupakan kelanjutan dari perikop pembahasan. Kerena pada perikop awal Yesus berbicara mengenai penderitaan-Nya dan kedatangan-Nya ( dalam hal ini kedatangan sesudah kebangkitan) maka sangat wajarlah bahwa Yesus ingin supaya umat-Nya untuk siap sedia dan setia dalam iman dan harap. Yesus sebagai Anak Manusia menunjukkan belas kasih-Nya bagi kita saudara-Nya karena Ia menjadi manusia sama seperti kita.
4. Analisa Teks “Anak Manusia” (Mat 24: 30)
Dalam Injil, Yesus berbicara tentang dirinya sebagai Anak Manusia. Kadang-kadang ia menggunakan istilah untuk mengungkapkan kemanusiaan (Lukas 9:58) atau untuk menekankan perannya sebagai orang yang akan menderita dan mati untuk mengampuni dosa (Markus 10:45; Lukas 9:22,43). Tetapi ungkapan ini digunakan sebagai baik ketika merujuk kepada Yesus 'kemuliaan masa depan, ketika umat Allah berkumpul bersama dan Kerajaan Allah (aturan) akan dibentuk (Markus 8:38-9:1). Orang-orang akan melihat Anak Manusia duduk di sebelah kanan Allah Yang Mahakuasa (Markus 14:62). Selain itu, ia akan melihat kembali ke bumi dengan kekuasaan dan otoritas yang besar (Mat 24:30). Berdasarkan penelitian lain juga ditemukan daftar makan yang berbeda dari pemakaian istilah “Anak Manusia” sebagai berikut:
a. Sebagai pengganti penunjuk diri “aku” (Luk 9:58; Mat 11: 19/Luk 7:34; Mat 16:13). Dalam Injil Markus 8:27 rumusan berbunyi: “Siapa Aku menurut kata orang?” (bdk. Luk 9:20); dalam Mat 16:15 pertanyaan diulangi dengan rumusan: “Siapa menurut pendapatmu Aku ini?”. Bagi penginjil pergantian antara “anak manusia” dan “aku” nampak begitu biasa dan mudah (bdk. Luk 6:20 dengan Mat 5:11). Ini nampaknya berdasarkan pengalaman bahwa Yesus pun begitu kerap menggunakan istilah tersebut untuk diri-Nya.
b. Penginjil menggunakan istilah dalam hubungan dengan rumusan Yesus yang besar serta pernyataan-Nya (lih. Luk 19:10; Mat 20:28; Luk 11:30). Dalam Injil menjadi jelas bahwa gelar itu menunjuk tuntutan besar dan penting.
c. Paling sedikit sekali gelar dihubungkan dengan kebangkitan, lepas dari kisah sengsara. Pernyataan sesudah peristiwa kemuliaan di gunung menjelaskan hal ini. (lih. Mat 17:9 bdk. Mrk 9:99).
d. Gelar dihubungkan dengan kemuliaan Yesus (Mat 19:28; 24:30 bdk. Mrk 13:26; Luk 17: 26.30; Mat 26: 64 bdk. Mrk 14: 62; Luk 22:69).
e. Gelar juga digunakan untuk menggambarkan Yesus akan datang kembali di akhir zaman (Mat 24:27 bdk. Luk 17:24; juga Mat 16:27.28; 24:44 bdk. Luk 12:40; juga Luk 18:8).
f. Penginjil menempatkan sabda itu di mulut Yesus yang berbicara tentang pengadilan (Mat 13: 41; 25: 31-32; Luk 9:56: 21: 36).
Dengan dafatar-daftar pejelasan dari setiap teks mengenai pemakaian istilah “Anak Manusia” maka langsung dapat dimengerti bahwa pemakaian istilah “Anak Manusia” dalam Matius 24:30 mengandung makna untuk menunjukkan kemuliaan Yesus dan sekaligus mau menggambarkan kedatangan-Nya kembali dengan segala otoritas-Nya sebaai Allah dan sebagai Manusia.
5. Kesimpulan
Walaupun mungkin terdengar bertentangan, sebenarnya tidak ada pertentangan dalam judul itu. Jika dikaji lebih lanjut dalam Alkitab, sebutan 'Anak Manusia' mempunyai makna yang luas. Pertama-tama, bahkan ketika sebutan 'Anak Manusia' menunjuk pada kemanusiaan Yesus, itu bukan suatu penyangkalan terhadap Ketuhanan-Nya. Dengan menjadi seorang manusia, Yesus tidak berhenti menjadi Tuhan. Penjelmaan Kristus tidaklah mengakibatkan keilahian-Nya berkurang, tetapi sisi kemanusiaannya ditampilkan. Yesus secara tegas menyatakan dirinya sebagai Tuhan dalam berbagai kesempatan (Matius 16:16,17; Yohanes 8:58; 10:30). Selain keberadaan-Nya yang ilahi, Yesus juga adalah manusia (lihat Filipi 2:6-8). Ia mempunyai dua hakikat (ilahi dan manusiawi) yang menyatu dalam satu pribadi.
Lebih lanjut, Kitab Suci mengungkapkan bahwa Yesus tidak pernah menyangkal keilahian-Nya dengan menyatakan dirinya sebagai Anak Manusia. Istilah anak Manusia justru sebenarnya digunakan dalam Alkitab dalam konteks keilahian Kristus. Sebagai contoh, Alkitab mengatakan bahwa hanya Allah yang dapat menghapus dosa (Yesaya 43:25; Markus 2:7). Tetapi, sebagai 'Anak Manusia', Yesus mempunyai kuasa untuk menghapus dosa (Markus 2:10). Juga, bahwa Kristus akan kembali ke bumi sebagai Anak “Manusia” dengan kemuliaan di atas awan-awan untuk memerintah diatas bumi (Matius 26:63-64). Dalam bagian ini, Yesus menunjuk pada Daniel 7:13 dimana Mesias digambarkan sebagai "Yang Lanjut Usianya," suatu istilah yang digunakan menunjukkan ke-Tuhanan-Nya (lihat juga Daniel 7:9).
Juga ketika Yesus ditanya oleh imam agung apakah Ia adalah 'Anak Tuhan' (Matius 26:63), Ia menjawab dengan tegas bahwa Ia adalah 'Anak Manusia' yang akan datang dengan kuasa dan kemuliaan yang agung Ayat 64). Ini menunjukkan bahwa Yesus sendiri menggunakan istilah 'Anak Manusia' untuk menyatakan keilahian-Nya sebagai Anak Tuhan.
Akhirnya, istilah 'Anak Manusia' juga menekankan siapakah Yesus dalam hubungan dengan penjelmaanNya dan karya keselamatanNya. Di Perjanjian Lama (Imamat 25:25-26, 48-49; Ruth 2:20), kaum kerabat (yang berhubungan secara darah) selalu berperan sebagai 'penebus saudara' dari anggota keluarga yang membutuhkan penebusan dari penjara. Yesus menjadi saudara kita 'berdasarkan darah' (yaitu dengan Ia menjelma menjadi manusia) sehingga Ia bisa menjadi Penebus-Saudara kita dan menyelamatkan kita dari dosa.


0 Responses so far.
Posting Komentar